Tidur Berbantal Koran Cetak E-mail
(35 votes)

Kisah Nyata, Penjual Koran Menjadi Wartawan

Tidur Berbantal KoranJalan hidup setiap manusia di masa depan memang susah ditebak, tak ada yang tahu, kecuali Tuhan. Siapa yang mengira bila seorang pemuda yang awalnya hanya penjual koran jalanan, naik turun bus ekonomi, berjalan kaki keliling kota, bertempur melawan terik mentari saban hari, tapi pada akhirnya bisa menjadi penulis bahkan kemudian ditawari menjadi wartawan di sebuah majalah ternama di Jakarta.

Sungguh, tanpa diimpit berbagai cobaan berat, Nur Mursidi kemungkinan besar tak akan pernah menjadi penulis dan wartawan (halaman 1). Dia terpaksa berjualan koran saat sedang menjalani ospek setelah diterima di sebuah perguruan tinggi swasta (Universitas Sarjana Wiyata Tamansiswa) Yogyakarta. Meski sempat kaget saat seorang teman menyarankan agar berjualan koran demi bertahan hidup dan menopang biaya kuliah, namun dia lantas menyanggupi karena memang tak ada pilihan lain. Dia teringat ayah di kampung yang sedang sakit dan tak mampu membiayai kuliahnya. Bahkan, kedua orangtuanya malah menyuruh pulang, tapi dia masih ingin kuliah dan berjanji akan mencari biaya sendiri (halaman 40-46).

Awalnya, dia sekadar berjualan koran demi memenuhi kebutuhan hidup dan biaya kuliah. Namun, suatu hari, secara tak sengaja dia bertemu tukang becak yang hobi membaca dan rajin membeli korannya. Entah mengapa, perasaan malu tiba-tiba menyeruak dalam hati. Dia merasa tersindir, sebab sudah berhari-hari berjualan koran, tapi tak pernah membaca koran yang dijajakan (halaman 4-5). Pengalamannya bertemu tukang becak itulah yang membuatnya tersadar. Di emperan toko, bahkan terkadang di tepi jalan, dia meluang banyak waktu untuk membaca setumpuk koran dagangannya. Setiap selesai membaca tulisan-tulisan penulis yang masih berstatus mahasiswa, otaknya seperti mendidih. Semangatnya terlecut ingin jadi penulis. Tanpa bimbingan seorang guru, dia pun belajar menulis autodidak, sembari mencermati model tulisan-tulisan yang kerap menghiasi koran-koran dagangannya (halaman 7-8).

Setiap pagi, dia melakoni ritual berjualan koran di jalanan. Menjelang siang, dia berangkat kuliah, mengayuh sepeda onthel menuju kampus. Malam hari, dia berlatih menulis dengan mesik ketik gadaian temannya yang sedang butuh uang (halaman 84) lalu mengirimkannya ke sejumlah koran. Dia semakin mantap menjadi penulis karena tak ingin menjadi penjual koran terus-terusan atau menjadi anak jalanan abadi. Menurutnya, sekeras apa pun persaingan untuk bisa dimuat di koran, ia merasa masih lebih keras dan kejam menjalani hidup di jalanan. Dia pernah dipalak dan diancam preman dengan sebilah belati yang dihunuskan tepat di wajah (halaman 53-54), bahkan dia pernah juga berkelahi dengan sesama penjual koran yang merasa lahannya dia rebut. Di jalanan pula, dia bergaul dengan preman yang hobi mabuk dan berkelahi, baur bersama gerombolan tukang copet yang biasa beraksi di dalam bus, dll. Itulah yang menjadi alasan, mengapa dia tak pernah patah arang berjuang agar tulisannya dimuat koran.

Waktu berlalu cepat. Cobaan hidup datang silih berganti. Dia terpaksa keluar kuliah ketika semester dua karena tak mampu bayar SPP. Setelah itu, dia hidup di jalanan, berjualan koran, menyambangi perpustakaan agar bisa membaca beragam jenis buku, tak lelah berlatih menulis lalu mengirimkannya ke berbagai media (halaman 59-65). Dia bahkan pernah hidup nomaden bersama Budi, teman senasib, selama dua bulan. Dia terpaksa numpang tidur di kos teman-teman secara bergilir, bahkan terkadang lontang-lantung begadang di pinggir jalan (halaman 66-72).

Tahun 1996, dia berencana melanjut kuliah, tapi bukan di tempat dulu. Dia pindah ke perguruan tinggi negeri (IAIN Yogyakarta) karena biaya kuliah lebih terjangkau meski harus mengulang dari semester I. Sembari kuliah dan berjualan koran, ia terus belajar menulis, bahkan belajar fotografi melalui seorang teman yang kuliah di ISI jurusan fotografi (halaman 100-109). Akhirnya perjuangannya perlahan berbuah manis. Dia bisa bernapas lega ketika satu per satu karyanya (termasuk hasil bidikan kameranya) dimuat berbagai koran, lokal hingga nasional. Dia semakin bersemangat melahirkan karya, berusaha menambah jam terbang menulis dan membacanya. Tidur larut malam adalah hal biasa. Bahkan saat matanya disergap kantuk, setumpuk koran yang berada di sampingnya dia jadikan sebagai bantal tidur (halaman 172-173). 

Puncaknya tahun 2005. Dia sungguh tak menyangka akan mendapat tawaran menjadi wartawan (melalui seorang teman) sebuah majalah islami (majalah Hidayah) di Jakarta. Padahal dia sudah tak berharap kerja di kantor setelah berulangkali melamar kerja tapi tak kunjung diterima hingga dia memutuskan berjualan buku-buku bekas di dekat Alun Alun kota Yogyakarta. Cerita selengkapnya (yang menjadi kisah indah perjalanan kepenulisannya) dipaparkan pada bab terakhir buku ini. (Sam Edy Yuswanto)

***

 

Judul

: Tidur Berbantal Koran

Penulis

: N. Mursidi

Penerbit 

: Elex Media Komputindo

Tahun

: 2013

Genre 

: Kisah Nyata

Tebal

: 243 Halaman

ISBN

: 978-6020-205-94-6

 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
KISAH NYATA

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"A book worth reading is worth buying." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 29039785

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit