Slilit Sang Kiai Cetak E-mail
(1 vote)

Kritik Menggelitik dari Cak Nun

Slilit Sang KiaiSelama alam dan segala isinya masih diberi “umur panjang” oleh Tuhan, maka pelbagai masalah kehidupan akan terus bermunculan. Hal itu lazim terjadi karena bagian dari sunatullah yang tak bisa ditampik dan dihindari. Satu-satunya langkah yang harus kita lakukan adalah bagaimana menyikapinya dengan arif dan bijak. Serta, senantiasa berusaha memperbaiki keadaan yang telanjur carut-marut.

Permasalahan-permasalahan yang selama ini menimpa negeri kita yang gemah ripah loh jinawi ini salah satu bukti bahwa persoalan kebangsaan masih belum benar-benar hilang. Berbagai kasus yang terjadi seperti berbagai skandal yang dilakukan oleh elit politik, anggota dewan dan pejabat pemerintahan lainnya memang segera membutuhkan solusi.

Emha Ainun Nadjib lewat buku Slilit sang Kiai akan mengajak kita merenungkan pelbagai hal lewat kolom-kolom cerdasnya, yang tidak hanya menyentil, tapi juga menampar-nampar kekerdilan kita sebagai manusia yang sering alpa dengan melakukan banyak kesalahan.

Fenomena korupsi yang sampai detik ini masih menjadi masalah tak berkesudahan bisa kita belajar dan becermin dari tulisan berjudul Slilit sang Kiai. Dalam tulisan ini, penulis yang lebih akrab disapa Cak Nun itu mengisahkan tentang seorang Kiai yang masygul di alam kubur karena sebuah kesalahan yang dilakukan semasa hidupnya. Kisah yang hadir lewat mimpi-mimpi para santrinya itu menunjukkan bahwa sang Kiai merasa jalannya ke surga tidak mulus. Pertemuannya dengan Tuhan terbentur “jalan buntu” karena kesalahan kecil yang pernah dilakukan.

Konon, saat pulang dari sebuah acara pengajian, sang Kiai pernah mengambil kayu kecil di sebuah pagar untuk menusuk dan mebuang slilit yang menempal di celah-celah giginya. Sang Kiai belum sempat izin atau memberi tahu pemilik pagar yang diambilnya hingga beliau dipanggil ke haribaan Tuhan. Jika kayu kecil saja membuat sang Kiai masygul dan merasa tidak pantas memasuki surga karena belum meminta maaf pada si empunya kayu, bagaimana jika kayu yang diambil adalah kayu gelondongan di hutan-hutan yang ditebang bebas dan dijarah tanpa rasa bersalah?

Kisah di atas secara tidak langsung menyentil masalah kekinian yang banyak menjerat para pejabat. Dari kisah di atas kita bisa menyimpulkan suatu hal bahwa, sekecil apa pun kesalahan atau sesedikit apa pun barang yang kita ambil (korupsi), kelak akan membuat kita tidak tenang karena merasa dibuntuti rasa bersalah yang mengganggu ketenangan hati (halaman 17).

Dalam tulisan Maha Satpam, Cak Nun juga berusaha mengingatkan kita yang selama ini dengan sangat mudah menghakimi orang lain. Satu contoh, kita dengan sangat keras mengatakan orang lain syirik dan menyekutukan Tuhan ketika melihat orang lain mendatangi kuburan dan meminta nomor buntut untuk keperluan judi. Atau, kita menuding seseorang melakukan dosa karena ketahuan mencuri, menyeretnya ke meja hijau lalu memvonis orang itu dengan hukuman yang tak sebanding dengan kesalahan yang dilakukan.

Pernahkan kita berpikir dan bertanya kepada diri kita, kenapa mereka mencuri? Kenapa mereka rutin mendatangi kuburan? Apakah yang mereka lakukan karena keterpaksaan karena suatu keadaan yang sangat mendesak?

Lagi-lagi dalam tulisan ini Cak Nun berusaha mengetuk hati nurani pembaca bahwa selama ini kita terlalu bangga menjadi satpam kehidupan orang lain. Bahkan, kita begitu bermaksud menjadi maha satpam yang memberantas syirik atau kasus pencurian sampai titik darah yang terakhir. Tetapi, seringkali telinga kita mendadak menjadi buta dan tuli terhadap kasus penggusuran, terhadap proses pembodohan lewat jaringan depolitisasi, terhadap proses pemiskinan dan terhadap ketidakadilan sosial yang luas (halaman 61).

Kolom-kolom dengan pelbagai tema--sosial, ekonomi, budaya, patriotisme dan yang lainnya--yang ditulis Cak Nun awal 1980-an ini masih sangat relevan dengan kondisi kekinian yang memang membutuhkan solusi serius untuk menuntaskannya. Cak Nun dengan penuh cerdas dan kritis menohok dan mencoba merangsang kepedulian kita akan fenomena yang akhir-akhir ini kerap melanda negeri ini.

Lewat buku 310 halaman ini pembaca bisa banyak belajar bagaimana seharusnya bersikap dengan bijak menghadapi persoalan-persoalan yang kerap melanda. Tidak hanya di ranah hukum, sosial-politik, tetapi juga di lingkungan keluarga yang seharusnya menjadi perhatian pertama untuk menanamkan pribadi yang peduli dengan lingkungan, tidak individualistis, sehingga tak acuh dengan keadaan yang membutuhkan perhatian dan kepedulian kita. (*)

(Untung Wahyudi)

 

Judul

: Slilit Sang Kiai

Penulis

: Emha Ainun Nadjib

Penerbit 

: Mizan

Tahun

: 2013

Genre 

: Sosial & Politik

Tebal

: 312 Halaman

ISBN

: 978-979-4338-18-6

 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
SOSIAL & POLITIK

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"All books are divisible into two classes, the books of the hour, and the books of all time." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 28784692

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit