Bersatu; Manunggaling Kawulo Gusti Cetak E-mail
(1 vote)

Menguak Rahasia Makna Kesejatian Diri

Bersatu; Manunggaling Kawulo GustiManunggaling kawulo Gusti atau persatuan antara hamba dengan Tuhannya merupakan istilah yang sudah poluler di kalangan sufi Jawa. Istilah ini semakna dengan istilah wahdatul wujud yang dipopulerkan oleh Ibnu Arabi.

Ternyata, istilah tersebut membawa konsekuensi bagi pengamalnya pada zaman dan tempatnya masing-masing. Pada abad ke-10 misalnya, seorang sufi asal Persia bernama al-Hallaj harus menerima hukuman mati karena terang-terangan mengaku diri sebagai pengamal ajaran kesatuan hamba dengan Tuhan. Sedang pada abad ke-16, serang wali dari tanah Jawa bernama Syaih Siti Jenar mengalami nasib serupa atas pengakuannya.

Meski begitu, sang penggagas wahdatul wujud, Ibnu Arabi tidak pernah mengalami nasib seperti mereka berdua. Lantaran beliau mampu menyembunyikan keyakinannya dihadapan khalayak. Ia lebih suka menuangkan keyakinannya ini dalam bentuk karya tulis.  (hal.7)

Nama Ibu Arabi memang tak begitu tenar di Jawa, namun ide dan ajarannya telah membentuk sebuah ajaran baru, yakni manunggaling kawulo Gusti dan sangkan paraning dumadi. Dua ajaran ini yang coba ditelisik lebih dalam oleh penulis dalam kaitannya dengan wahdatul wujud-nya Ibnu Arabi.

Istilah insan kamil berarti manusia yang sudah paripurna, yaitu khalifah Tuhan, yang melaluinya, Tuhan merenungkan dan memikirkan kesempurnaan yang berasal dari nama-Nya sendiri. Manusia paripurna mengaktualisasikan bentuk ilahi. Melalui manusia paripurna inilah, Tuhan masuk ke dunia. (hal.13). Istilah ini dipopulerkan pertama kali oleh Ibnu Arabi.

Sekitar 4 abad setelah wafatnya Ibnu Arabi, muncullah seorang sufi dari India bernama Ibnu Fadhillah yang meneruskan ajaran wahdatul wujud dalam bentuk karya tulis, yakni Tuhfah al-Mursalah. Kitab ini berisi tentang martabat tujuh, sebuah konsep sufistik yang dapat mengantarkan manusia menjadi insan kamil. (hal.16)

Kitab ini bukan saja menjadi rujukan tapi juga menjadi pangkal perdebatan para ulama di tanah Melayu terkait pemahaman atau penafsiran isi kitab tersebut. Kasak-kusuk tersebut berasal dari pertentangan antara kaum sufi ortodoks yang diwakili oleh Syekh ar-Ranniri dan kaum sufi heterodoks yang diwakili Hamzah Fanshuri.

Kasak-kusuk ini pun disampaikan pada ulama Timur Tengah, Al-Kurani. Untuk meredam perdebatan tersebut beliau pun menyusun Ithaf adz-Dzakiy. Kitab ini bertujuan untuk memperjelas dan menjaukan ulama Melayu dari kesalahan dalam memahami kitab Tuhfah al-Mursalah. (hal.20)

Sementara di Jawa, menurut hasil penelitian A.H. Johns diketahui bahwa Serat Tuhfah berbahasa Jawa diketemukan dalam bentuk Sekar Macapat di Tegal. Serat ini ditulis pada tahun 1680, sekitar 20 tahun setelah wafatnya Nuruddin ar-Ranniri. Selain serat tersebut tidak dijumpai lagi tulisan sejenis yang berisi martabat tujuh atau sangkan paraning dumadi. Sampai 140 tahun kemudian, tepatnya tahun 1814-1823, ditulislah Serat Chentini yang didalamnya terdapat penjabaran tentang martabat tujuh. (hal.24-25)

Serat Chentini yang ketebalannya mencapai 4.200 halaman folio ini memuat hampir semua ilmu pengetahuan termasuk tasawuf. Serat ini laksana ensiklopedi tentang kejawaan. Yang menarik, dalam serat ini terdapat dua kali penjabaran tentang martabat tujuh, dan keduanya memiliki versi yang berbeda, yakni pada Serat Chentini jilid I dan III.

Versi pertama, isinya sama dengan yang termaktub di dalam Tuhfah al-Mursalah, dan Syrah Tuhfah Melayu. Maka bisa diasumsikan bahwa ajaran martabat tujuh dalam serat Chentini jilid I bersumber dari Serat Tuhfah Tegal. Sedang dalam jilid III, meskipun tidak disebut sebsgsi martabat tujuh tapi namanya sama dengan martabat tujuh, sedang perinciannya atau pembahasanya berbeda dengan kitan Tuhfah. (hal.27)

Dari sini terlihat sebuah kenyataan menarik bahwa di Jawa telah ada dua pemahaman martabat tujuh sebagai jalan menuju kesempurnaan yang berbeda. Pemahaman pertama bersumber dari para sufi Melayu yang bermuara pada ajaran Ibnu Arabi, sedang pemahaman kedua bertumpu pada kitab Daqa’iqul Haqa’aq dan Daqa’iqul Akhbar yang dipoles dengan mistis kejawen.

Beberapa puluh tahun kemudian. R.Ng. Ranggawarsita menulis kitab Serat Wirid yang isinya juga bedasar pada kitab Tuhfah al-Mursalah beserta sarahnya dan Daqa’iqul Haqa’aq dan Daqa’iqul Akhbar yang dicampur dengan keyakinan Jawa. Serat Wirid ini menjadi pegangan bagi para pengamal tasawuf Jawa, khususnya di kalangan istana Surakarta.

Setelah melihat penjabaran di atas, bahwa ajaran wahdatul wujud dari Ibnu Arabi memiliki perbedaan dengan manunggaling kawulo Gusti versi Jawa yang diwaliki oleh Serat Wirid. Dimana manunggaling kawulo Gusti lebih dekat dengan persepsi penyamaan antara Tuhan dengan manusia. Dan, pada bagian akhir buku ini penulis coba memaparkan pandangannya tentang martabat tujuh dengan bertolak dari perbedaan tersebut.***

(Moh. Romadlon)
 
 
 

Judul

: Bersatu; Manunggaling Kawulo Gusti

Penulis

: Agus Wahyudi

Penerbit 

: DIVA Press

Tahun

: 2014

Genre 

: Sufisme Jawa

Tebal

: 168 Halaman

ISBN

: 978-6022-553-95-3
 
Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Tebar Manfaat - Ikatan Alumni SAP KIT
 Program Santunan Anak Yatim di VILA QUR`AN FATHUL MUBIIN BANDUNG (*)

Donasi bisa disalurkan melalui rekening:

Bank SYARIAH MANDIRI ( 7111-8856-77 )

a/n: Ghani Hikmawan

(*acara pada tanggal 09 Desember 2017)

***

konfirmasi donasi ke: 3543be3679047cc27c67d19a6e7d8e19

Beibiiyku Online Shop
Sponsor
Resensi Genre Terkait
Tidak ada Resensi Genre Terkait

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Dare To Make Mistakes; Kreatif Berinovasi dan Bera...
Bagus ini ...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"All books are divisible into two classes, the books of the hour, and the books of all time." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 25230062

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit