Senapan Tak Berpeluru Cetak E-mail
(7 votes)
Sejarah panjang kehidupan manusia di dunia hampir tak pernah lepas dari sebuah ritus yang bernama perang. Perang seperti “anak jadah” yang lahir dari rahim peradaban. Perang selalu membawa akibat buruk bagi siapa saja. Ibarat pepatah “kalah jadi abu, menang jadi arang”, semua pihak yang terlibat dalam perang pada dasarnya telah merugi. Pihak yang kalah tentu akan menjadi korban.

Senapan Tak BerpeluruAkan tetapi bagi yang menang pun, semua kejayaannya hanya sebatas fatamorgana sebab begitu besar ongkos yang harus dibayar demi sebuah kemenangan dalam perang. Pembayaran dengan nyawa, air mata, harta benda, ataupun nasib veteran yang terlunta di kemudian hari. Kirdjo, tokoh sentral dalam novel ini, salah satu cermin betapa mahal ongkos yang harus dibayar akibat perang. Sebagai pensiunan tentara yang telah dengan gagah berani bertaruh nyawa di hadapan senapan musuh, Kirdjo harus rela menanggung kesusahan di sisa hidupnya. Betapa tidak, hidup Kirdjo serba kekurangan. Bahkan untuk sekadar memenuhi kebutuhan rumah tangga, Kirdjo terpaksa utang tetangga.

Uang pensiun yang diterima terlalu kecil. Walau begitu, menjadi tentara adalah pilihan Kirdjo. Dia bangga dengan pilihannya itu. Pada masanya, masih jarang orang di kampung halamannya, Gunung Kidul, yang jadi tentara (hal 3). Namun, itu bukan alasan utama. Pilihan Kirdjo terjun ke dunia militer dilandasi rasa nasionalisme dan bela negara. Kirdjo turut serta dalam aksi menumpas kaum pemberontak yang berupaya merongrong kedaulatan negara. Kirdjo adalah patriot, walau diharuskan berperang melawan saudara sebangsa.

Setelah pensiun, Kirdjo memakai topi tentaranya ke mana pun pergi. Kirdjo menganggap topi itulah benteng terakhir yang mampu mewakili rasa bangganya sebagai patriot (hal 140). Mardjo, teman Kirdjo semasa aktif di tentara, tak jauh beda nasibnya. Ia dipecat dari kesatuan gara-gara menolong perempuan pejuang dari kubu pemberontak yang tertembak. Sang komandan menganggap itu desersi. Sebelum pergi, Mardjo sempat mengambil jip komandan. Namun, jip itu dijualnya demi membantu biaya pengobatan Kirdjo, kawan lamanya. Kendati hidup sebatang kara dan kakinya cacat akibat ledakan granat, Mardjo menghabiskan sisa umurnya sebagai pemungut batu bara di perairan sekitar Pelabuhan Cirebon untuk sekadar menyambung hidup (hal 124). Ada pula Kiai Su, orang tua asuh Kirdjo semasa kecil, yang juga mantan serdadu Jepang bernama asli Saito.

Bagi Saito, perang sejatinya tak harus ada sebab perang bukan tindakan yang benar (hal 79). Setelah Jepang menyerah, Saito pulang ke negerinya. Akan tetapi, Saito memilih kembali ke Indonesia dan meninggalkan identitas Jepangnya sebagai langkah menebus dosa atas perlakuan keji bangsanya terhadap rakyat Indonesia semasa pendudukan (hal 63). Kirdjo, Mardjo, dan Kiai Su adalah orang-orang perang. Keberadaan mereka seakan hanya dinilai tatkala perang berkecamuk. Setelah perang dan masuk masa pensiun, mereka tak lebih dari “senapan tak berpeluru” yang menanggung rasa bersalah dan jauh dari kebahagiaan sejati hingga akhir usia.

Terlebih untuk orang seperti Kirdjo, dia tak pernah merasakan buah manis perjuangannya semasa menjadi orang perang. Tapi Kirdjo tak mengharap pamrih. Dia hanya ingin melunasi utangutangnya sebelum ajal menjemput, sementara negara yang sebenarnya telah berutang kepada orang-orang seperti Kirdjo, justru memalingkan muka. (Abimardha Kurniawan - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

 

Judul

: Senapan Tak Berpeluru

Penulis

: Joko Gesang Santoso

Penerbit 

: Javaksara Media

Tahun

: 2013

Genre 

: Novel Sejarah

Tebal

: 176 Halaman

ISBN

: 978-602-1690-01-7
Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
NOVEL SEJARAH

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"The pleasure of all reading is doubled when one lives with another who shares the same books." ~ Katharine Mansfield

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 28970720

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit