Good Morning, Pagi! Cetak E-mail
(3 votes)

Menjadi Diri Sendiri Kunci Kebahagiaan Sejati

Untuk mendapatkan sebuah kebahagian sebenarnya tidak begitu sulit, hanya butuh keberanian. Keberanian untuk menjadi diri sendiri. Sayangnya, lingkungan terdekat kita, yaitu keluarga sering tak memahami ini. Tak jarang mereka malah menjadi rintangan pertama kali saat seorang anak tampil dengan karakter dan keinginannya. Dengan alasan kasih sayang, lalu mereka semena-mena menyeret dan menjebloskan anak pada sebuah “dunia lain”. Dunia yang mereka ciptakan dengan setumpuk keegoan, tanpa mau bertanya, apakah sang anak nyaman atau malah tersiksa di sana.

Good Morning, Pagi!Padahal seharusnya merekalah yang pertama menyadari, bahwa setiap anak selalu membawa karakter, kebiasaan, hobi, keahlian dan memiliki dunia sendiri yang berbeda, yang kadang tak terjaungkau oleh siapa pun. Karena, setiap insan memiliki segala yang bersifat pribadi, unik, dan sangat MERDEKA!

Menjadi diri sendiri itulah yang diperjuangkan Dhira, tokoh utama dalam novel remaja besutan Dhaniar W. Sharfina ini. Sebagai cewek tomboi, Dhira yang tidak pernah ambil pusing dengan tingkahnya, begitu terperanjak saat tiba-tiba sang papa memaksanya untuk bermetaformosis menjadi cewek manis yang super feminis. Cewek dengah gerak-gerik gemulai, gaya bicara lembut, berbau semerbak parfum, dan segunung peraturan yang membuat Dhira terasa betul-betul tersiksa. Untuk itu semua papa memaksanya mengikuti lomba Miss Perfect. Meski hati Dhira menjerit, selain taat tidak ada yang bisa diperbuat. Hasil kontesnya jelas, penampilan Dhira sangat mengecewakan. Bukannya Papa mengoreksi diri tapi malah dia  merasa dipermalukan di depan teman-teman. (hal. 34)

Kenyataan ini rupanya tidak juga membuat papa Dhira menyadari bahwa tanpa menjadi diri sendiri, sulit atau bahkan tak mungkin seorang anak akan bisa berprestasi karena ia tak bisa menggali secara maksimal semua potensi yang dianugerahkan Tuhan pada dirinya. Bahkan, sang papa menuduh biang keladi dari ini semua adalah hobi Dhira yang –dimata papa-  jauh dari kesan feminim, yakni melukis dan main basket. “…Semua itu yang telah menyihirmu menjadi anak bandel!” tukas Papa. (hal.35). Sejak itu, sang papa dengan tegas melarang ia melakukan kedua hobinya tersebut.

Dengan segala keabsolutan seorang ayah, beliau “meluluhlantahkan” dunia Dhira, dan menyeretnya ke sebuah dunia baru. Semua lukisanya, yang merupakan satu bentuk dunia tempat Dhira menumpahkan segala ekspresi hati, tempat ia menyimpan segenap mimpi dan seluruh jati dirinya, dihancurkan sang papa. Nuraninya pun melengking. Dengan alasan apa pun ia tak bisa menerima perlakuan sang papa itu. “Dhira bisa menentukan mimpi Dhira. Dhira bisa bermimpi sebanyak Dhira mau!”, pekiknya. (hal.57)

Satu alasan klasik yang sering menjadi pembenaran tiap orang tua saat memberangus dunia sang anak adalah masa depan. Itu juga yang melandasi tindakan papa pada Dhira. Beliau tak ingin anaknya memiliki masa depan yang suram. Bagaimanapun mejadi pegawai kantoran itu lebih menjanjikan dibandingkan hanya jadi pemain basket dan pelukis. Terlebih ia “terbelenggu” oleh kenangan dan trauma masa lalu akan kegagalan pada dua profesi itu.

Faktanya memang masih banyak orang tua yang “tersekap” paradigma bahwa kesuksesan seorang anak dalam meraih masa depan hanya berbanding lurus dengan banyaknya pundi-pundi harta yang dimiliki. Tak peduli apakah untuk itu sang anak mesti membuang jati diri dan menjadi “orang asing” di dalam dirinya sendiri.

Dhira menyadari menjadi “orang asing” di dalam dirinya sendiri itu sangat perih. Oleh karena itu ia pun “melarikan diri” dan terus berjuang demi membuktikan bahwa dia ada karena dunianya dan dunianya ada pun karena keberadaan dirinya. Berjuang hingga sang papa mengakui eksistensi diri dan dunianya. Dan itu tak mudah. Dhira yang tomboi pun tak sepenuhnya kuat. Untung ada Anna dan Liana. Mereka yang selalu memberi asupan asa padanya. Dengan ketulusan mereka, perlahan Dhira mulai mampu membuat “fondasi” dunianya dengan mengukir prestasi demi prestasi dalam bidang basket dan melukis.

Puncaknya, Dhira memenangi lomba lukis tingkat Nasional yang diadakan di Monas. Saat itulah ia mendapatkan hadiah terbesar. Hadiah yang selama ini ia perjuangkan; dunianya. Meski ia mahir melukis berbagai obyek, sungguh, ia tak mampu melukiskan luapan kebahagian saat ia kembali merasa jadi diri sendiri sepenuhnya.

Meski masih ada beberapa bagian cerita yang terasa dipaksakan, tapi secara keseluruhan novel remaja yang disajikan dengan bahasa pop crown ini layak dikonsumsi para remaja. Karena di dalamnya banyak mengandung “gizi” bagi para muda, salah satunya adalah bahwa kita pasti bisa jika kita selalu berfikir bahwa kita bisa. Dan, bisa yang paling membahagiakan adalah bisa menjadi diri sendiri. (Moh. Romadlon)

 

Judul

: Good Morning, Pagi! (Pink Berry Club)

Penulis

: Dhaniar W. Sharfina

Penerbit 

: Dar! Mizan

Tahun

: 2013

Genre 

: Novel Remaja

Tebal

: 180 Halaman

ISBN

: 978-6022-420-72-9

 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
NOVEL REMAJA

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"All books are divisible into two classes, the books of the hour, and the books of all time." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 28777564

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit