Home; Saling Menjauh Tapi Saling Merindu... Cetak E-mail
(2 votes)

Rumah, tak hanya menjadi tempat bernaung dari terik dan hujan. Lebih dari itu, rumah adalah tempat bersejarah penuh kenangan, tempat di mana sejauh-jauhnya kita pergi kita akan selalu merasa rindu untuk pulang padanya. Rumah adalah sebuah ‘sarang hangat’ yang membuat kita ingin terus bernaung di dalamnya. Meski di sisi lain, kita tetap dituntut keluar rumah untuk mencari bekal kehidupan agar semuanya menjadi lebih baik.

Home; Saling Menjauh Tapi Saling Merindu...“Home” adalah sebuah novel pembangun jiwa yang cukup menyentuh hati. Menyadarkan pentingnya hakikat cinta, ketulusan, gairah hidup, kasih sayang dan nilai kebersamaan dalam sebuah keluarga. Cerita bermula ketika pasangan lansia, Kurt dan Beatrice, sedang berencana merenovasi rumah agar terlihat lebih fresh untuk kemudian dijual dan mencari rumah lebih kecil untuk ditempati bersama. Sebenarnya mereka merasa berat hati untuk menjual rumah bersejarah yang merupakan warisan turun temurun dari almarhum kakeknya Beatrice.

Tapi mereka tak memunyai pilihan lain. Mengingat begitu tingginya pajak di negeri ini yang harus rutin disetorkan. Kendati ketujuh anak mereka yang kesemuanya laki-laki dan telah memiliki keluarga sendiri mampu untuk membayar, namun pasangan lansia itu tak tega membebani anak-anaknya. Bahkan, uang yang rutin dikirimkan melalui rekening, rencananya kelak akan diberikan kembali pada anak-anak (halaman 10-11).

Kurt bahkan menawarkan Beatrice agar tinggal saja di panti jompo setelah rumahnya laku. Alasannya, ia tak ingin membebani ketujuh anak-anaknya yang kini telah memiliki kehidupan bersama istri dan anak-anak mereka. Tapi, Beatrice menolak. Apa jadinya perasaan anak-anak jika menyaksikan kedua orangtuanya tinggal di panti jompo sementara mereka (sebenarnya) cukup mampu untuk menampung kedua orangtuanya? Begitu dalih yang ia utarakan pada suami tercinta. Meski realitanya, anak-anak mereka kian hari kian tak memedulikan orang tuanya (halaman 11-16).

Hanya Truly, suami Wisnu (anak sulung Kurt dan Beatrice) yang masih sering menyempatkan waktu untuk mengunjungi mertuanya (padahal dulu, ia termasuk menantu yang kurang mendapat restu Kurt saat Wisnu ingin menjadikannya sebagai istri). Yang membuat Truly tak habis pikir saat Wisnu terkesan cuek dengan keberadaan orangtuanya sendiri. Bahkan saat mereka tengah sibuk mengecat rumah, Wisnu tak mau datang membantu. Akhirnya, Truly-lah yang (lagi-lagi) harus mengalah. Truly ingin membuktikan bahwa ia adalah menantu baik yang peduli dengan mertuanya yang usianya semakin sepuh dan lebih membutuhkan perhatian (halaman 43-48).

Usut punya usut, ternyata ketidakpedulian Wisnu pada orangtuanya ditengarai sebuah kejadian yang dulu, secara tak sengaja ia lihat dan tak akan mungkin dapat ia lupakan dalam sejarah hidupnya. Waktu itu, Wisnu dan Truly belum menjadi pasangan suami istri dan sedang menuju sebuah vila milik ayahnya di Puncak Pass. Namun Wisnu mendadak mengurungkan niat ketika ia melihat mobil ayahnya juga berada di sana bersama seseorang. Itulah yang menjadi pemicu berkobarnya dendam di hatinya pada sang ayah (halaman 116).

Waktu terus berjalan, dan Truly berjuang keras agar mertuanya mengurungkan niat menjual rumah yang telah menjadi rumah keluarga sekaligus pemersatu dengan keluarga-keluarga besar lainnya. Berbagai cara pun ia tempuh, seperti mengumpulkan istri-istri adik iparnya untuk membahas permasalahan yang tengah menimpa mertua mereka. Bahkan mereka kemudian berencana menabung bersama untuk menebus rumah sang mertua (halaman 158-171).

Tapi, apakah dengan menabung permasalahan akan selesai? Seandainya rumah itu berhasil tertebus, apakah dapat menyadarkan mereka untuk terus menjaga silaturahmi dengan orangtuanya? Ternyata realita tak seindah yang mereka kira. Justru Kurt dan Beatrice tetap bersikukuh ingin menjual rumah itu. Truly, orang yang paling dekat dengan Beatrice kemudian berinisiatif mengajak mertuanya untuk tinggal bersamanya saat rumah tersebut sedang direnovasi (halaman 211-218).

Baru seminggu Kurt dan Beatrice tinggal di rumah Truly, permasalahan datang bermunculan. Terlebih Wisnu yang mulai mengeluh masuk angin karena terpaksa tidur di ubin beralas kasur lipat, sementara istrinya tidur bersama ketiga anaknya. Sama halnya dengan Truly yang merasa kian tak nyaman berada di rumahnya sendiri, sementara di sisi lain ia merasa sangat berdosa jika membiarkan mertuanya mencari tempat penginapan selama rumah mereka sedang direnovasi.

Novel karya Iva Afianty ini cukup menarik, meski ada beberapa bagian yang terasa monoton. Membaca novel karya penulis kelahiran Jakarta ini, membuat kita lebih peka dan peduli dengan keberadaan orangtua yang telah banyak berkorban dan berjuang keras membesarkan anak-anaknya. Jika kasih orang tua sepanjang zaman, apakah layak seorang anak terus-terusan menyimpan dendam terhadap mereka? (Sam Edy Yuswanto, Kebumen).

 

Judul

: Home; Saling Menjauh Tapi Saling Merindu...

Penulis

: Iva Afianty

Penerbit 

: DIVA Press

Tahun

: 2013

Genre 

: Novel Drama

Tebal

: 388 Halaman

ISBN

: 978-6022-553-00-7

 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
NOVEL DRAMA

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

“After all manner of professors have done their best for us, the place we are to get knowledge is in books. The true university of these days is a collection of books.” ~ Albert Camus

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 28772259

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit