Mimpi Jadi Caleg Cetak E-mail
(1 vote)

Mimpi Jadi CalegPartai yang sudah bekerja bertahun-tahun dapat saja kalah dengan pendatang baru yang memiliki modal besar serta pengaruh sosial yang kuat. Jadi, hitunglah modal dan tetapkan prioritas jika benar-benar hendak mengikuti "pertempuran" ini.

Kehidupan anggota Dewan (Perwakilan Rakyat) bisa dikatakan nyaman dan sejahtera karena banyak fasilitas dan hak istimewa yang diberikan negara. Untuk itu, banyak orang yang beranggapan pemilu legislatif merupakan ajang "pertempuran" dalam rangka menggapai kehidupan yang serba-lebih baik.

Menjadi caleg seakan-akan kebanggaan meskipun tanpa kredibilitas dan kapasitas tertentu. Bahkan, sebagian hanya bermodalkan status sosial dan finansial yang direkrut sebagai kuda tunggangan politik. Implikasi yang tidak baik dari calon asal-asalan seperti ini, manakala lolos jadi wakil rakyat, tidak tahu tugas dan fungsinya.

Wakil Ketua DPR, Pramono Anung, dalam disertasinya yang berjudul "Komunikasi Politik dan Pemaknaan Anggota Legislatif terhadap Konstituen", mengungkapkan sistem proporsional terbuka pada pemilu 2009 setidaknya membutuhkan dana minimal 300 juta–700 juta rupiah bagi para pesohor yang telah memiliki popularitas untuk menjadi caleg.

Adapun yang tidak termasuk pesohor dipastikan memerlukan dana lebih untuk mendongkrak popularitas, misalnya 500 juta–900 juta rupiah. Birokrat atau anggota TNI/Polri butuh dana 800 juta–1,2 miliar rupiah. Sementara kalangan pengusaha butuh 1,5 miliar–6 miliar (halaman 9).

Dengan sistem ini, partai yang sudah bekerja berahun-tahun dapat saja kalah dengan pendatang baru yang memiliki modal besar serta pengaruh sosial yang kuat. Jadi, hitunglah modal dan tetapkan prioritas jika benar-benar hendak mengikuti " pertempuran" ini.

Jika praktik demikian dibiarkan, sudah pasti hasil pemilu kurang baik karena menghasilkan pemimpin yang tidak memiliki visi dan misi kebangsaan dan keindonesiaan. Anggota Dewan Kehormatan Penyelenggaraan Pemilu (DKPP), Saut Sirait, menyebut sistem pemilihan legislatif telah menyebabkan rakyat maupun anggota dewan sama-sama menjadi "sapi perahan".

Rakyat diperah suaranya untuk memilih calon yang "kurang ideal" tapi punya duit besar. Sementara anggota dewan "diperah" parpol maupun konstituennya untuk terus-menerus menjadi "mesin ATM" jika ingin langgeng di kursi dewan (halaman 18). Dunia politik banyak dihujat, tetapi juga seperti magnet yang membuat banyak orang ingin mempertahankan dan merebut nikmatnya berkuasa (halaman 87 ).

Pengamat sosial politik dari Universitas Gadjah Mada, Arie Sujito, mengatakan caleg hendaknya merumuskan ideologi diri. Jika berkompromi dengan ideologi parpol, mereka harus menyadari benar risiko perjuangan yang bakal dilakukan. Jika sudah menyadari dan memantapkan diri, caleg lalu membuat strategi perjuangan mulai dari kampanye sampai kelak menjadi legislator (halaman 209).

Buku ini bisa menuntun mereka yang berminat menjadi caleg lengkap dan mendalam. Buku juga menyoroti sesungguhnya fakta, realitas pelaksanaan pemilu di Indonesia, serta aturan mainnya. Buku ini merupakan bagian dari perbincangan politik pencalegan yang mengkritisi keinginan sebagian masyarakat ikut-ikutan menjadi caleg pemilu 2014.

Isinya juga memberi pemahanan para elite partai politik serta calon anggota legislatif mengenai pentingnya mempersiapkan diri menjelang pertarungan. Materi lain yang dikupas menyangkut euforia politik dalam pencalegan menjelang pemilu 2014 yang dianggap berlebihan sebab banyak calon tidak mendasarkan visi politik pada logika konstruktif sehingga boleh dikatakan menjadi "politik bom waktu."

(Rina Noviana - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

 

Judul

: Mimpi Jadi Caleg

Penulis

: Kristin Samah dan Fransisca Ria Susanti

Penerbit 

: Penerbit Buku Kompas

Tahun

: 2013

Genre 

: Sosial & Politik

Tebal

: 220 Halaman

ISBN

: 978-979-70-9741-7

 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
SOSIAL & POLITIK

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"A book worth reading is worth buying." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 26310649

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit