Cinta Indonesia Setengah; Suara Anak-Anak Zaman Tentang Kebangsaan Cetak E-mail
(2 votes)

Menakar Kecintaan Kita Pada Indonesia

Cinta Indonesia Setengah; Suara Anak-Anak Zaman Tentang KebangsaanBagi masyarakat awam, mungkin, adanya praktik korupsi dan sejenisnya disebabkan karena gaji dan tunjangan pejabat yang kecil. Sehingga, mereka masih berusaha mencari celah untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Padahal, sebenarnya, gaji dan tunjangan pejabat korup itu sudah sangat besar. Bahkan, gaji dan tunjangan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu mencapai 110 juta rupiah. Nominal gaji yang sangat fantastis jika dibandingkan dengan gaji pejabat-pejabat biasa.

Cinta Indonesia Setengah adalah kumpulan tulisan beberapa penulis yang sebelumnya telah dimuat Kompasiana, sebuah komunitas yang didirikan oleh Pepih Nugraha sebagai wadah aspirasi masyarakat tentang berbagai hal.

Buku ini memuat sejumlah tulisan reflektif yang berkaitan dengan kecintaan kita pada Indonesia, Negara tercinta. Dari seputar pendidikan, nasionalisme, bahasa, ekonomi, birokrasi dan pelayanan umum, hingga tentang pemberantasan korupsi. Semua dituturkan dengan bahasa yang mengalir, khas tulisan blog dengan berbagai gaya penulisan, sehingga membuat kita tidak bosan membacanya.

Beberapa tulisan yang membahas tentang korupsi, misalnya, menuturkan tentang cara pandang masyarakat yang selama ini keliru menilai sebuah kemapanan atau kebercukupan. Misal, kita sering menilai bahwa orang yang rumahnya mewah dan kendaraannya banyak itu adalah orang yang sukses (halaman 194). Atau, masyarakat saat ini juga cenderung melegalkan atau menganggap lumrah praktik korupsi yang dilakukan mereka. Seperti dalam tulisan berjudul Bangga Menjadi Koruptor, penulis mengisahkan pengalaman seorang wartawan yang melihat fenomena di masyarakat yang bangga menjadi  PNS karena telah berhasil menyogok petugas sebesar  125 juta rupiah. Ada juga yang mengatakan, untuk menebus SK PNS-nya terpaksa harus membayar sebesar 20 juta rupiah.

Jika ditelisik, fenomena ini memang seolah-olah lumrah di masyarakat. Mereka sudah tahu sama tahu bahwa mustahil untuk menjadi PNS tanpa ada “uang pelicin”. Mereka bukan tidak tahu hukum atau agama yang jelas-jelas melarang praktik sogok-menyogok. Tapi, sekali lagi, mereka sudah terpengaruh suatu kondisi yang membuat mereka harus maklum. Yang membuat miris, kadang ada yang menganggap uang pelicin itu sebagai “modal usaha” yang harus dikeluarkan sebelum “bekerja” sebagai PNS (halaman 197).

Sementara itu, dalam tulisannya berjudul “Indonesia Raya” Perlu Disimak dengan Cara Berbeda, Eddy Rusdiono menulis tentang bagaimana kita memaknai lagu kebangsaan yang setiap tahun dikumandangkan dalam HUT Republik Indonesia. Lagu Indonesa Raya adalah lagu kebangsaan yang seyogianya bisa memupuk nasionalisme kita terhadap Negara, sekaligus merenungi bagaimana para pejuang dengan penuh perjuangan mengusir dan melawan para penjajah.

Yang jadi pertanyaan adalah, bagaimana sikap kita ketika mendengarkan lagu itu dikumandangkan? Apakah dengan tegak berdiri dan menunduk khidmat, atau bersikap biasa-biasa saja seperti halnya kita menikmati lagu-lagu sebagai hiburan semata?

Tentang bagaimana sebuah bangsa menempatkan lagu kebangsaan mereka, nampaknya kita bisa belajar dari bangsa Thailand. Pada saat Pemerintah Thailand menetapkan “Phleng Chat Thai” jadi lagu kebangsaan pada 1939, pemerintah juga menggulirkan peraturan bahwa lagu kebangsaan harus dikumandangkan setiap hari dua kali, pukul 08.00 pagi dan pukul 04.00 sore, berbarengan dengan penarikan dan penurunan bendera. Peraturan itu sampai saat ini masih ditaati.

Menariknya, ketika mendengar lagu kebangsaannya dikumandangkan, masyarakat akan berhenti beraktivitas. Mereka akan meletakkan alat kerjanya untuk mengikuti dan mendengarkan secara khidmat lagu kebangsaan sepanjang 1 menit 10 detik itu. Ketika lagu itu selesai, semua orang kembali ke aktivitasnya masing-masing (halaman 15).

Ada banyak hikmah yang bisa kita petik dari sejumlah tulisan dalam buku 258 halaman ini. Terutama bagaimana kita harus dengan sepenuh hati mencintai Indonesia yang mengalami krisis moral dengan semakin banyaknya kasus korupsi di berbagai instansi dan institusi. Kecintaan kita pada Tanah Air ini bisa dilakukan dengan cara menjaga kelestarian budaya sendiri, sehingga tidak akan ada lagi bangsa lain yang mengklaim kebudayaan Indonesia sebagai budayanya.

Membaca tulisan dalam buku ini adalah membaca keresahan sekaligus membaca impian tentang Indonesia. Keresahan di antara profannya cara hidup manusia Indonesia. Semua ekspresi itu terwadahi di dalam buku ini.

Buku ini bisa menjadi cermin cara kita meng-Indonesia, sekaligus menakar kadar kecintaan kita pada Indonesia. Sehingga, kelak Indonesia menjadi bangsa yang benar-benar berbudi luhur, menjadi teladan bagi bangsa lain dan segera lepas dari jerat dan cap sebagai salah satu Negara korup di dunia. Semoga. [*]

(Untung Wahyudi, alumnus IAIN Sunan Ampel, Surabaya)

 

Judul

: Cinta Indonesia Setengah; Suara Anak-Anak Zaman Tentang Kebangsaan

Penulis

: Kompasianers

Penerbit 

: Bentang Pustaka

Tahun

: 2013

Genre 

: Memoar

Tebal

: 258 Halaman

ISBN

: 978-6027-888-64-7

 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
MEMOAR

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"All books are divisible into two classes, the books of the hour, and the books of all time." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 27202466

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit