Kitab Nasihat Hidup Orang Jawa Cetak E-mail
(2 votes)
Merenungi Nasihat Bijak Orang Jawa

Kitab Nasihat Hidup Orang Jawa

Dalam khazanah hidup orang Jawa, tersimpan ribuan peribahasa yang menjadi amalan keseharian, bahkan kemudian dijadikan sebagai pedoman hidup. Bila direnungi, ternyata kekuatan nilai-nilai pesan yang terkandung di dalam peribahasa tersebut masih banyak yang relevan dijadikan sebagai landasan sikap sekaligus pembentukan budi pekerti di era modern dan global seperti sekarang ini.

Sebagaimana kita ketahui, orang Jawa dikenal sebagai kelompok etnis yang mempunyai kekayaan falsafah hidup serta unggah-ungguh (etika) yang sangat luas. Orang Jawa lebih cenderung mengedepankan harmoni berbahasa serta kiasan dalam bersikap. Ini tentu berbeda dengan etnis-etnis lain yang memiliki karakter tegas dan tidak suka berbasa-basi.

Buku berjudul ‘Kitab Nasihat Hidup Orang Jawa’ berisi kumpulan peribahasa Jawa yang eksistensinya mampu menerobos ruang serta waktu hingga abad XXI. Peribahasa-peribahasa dalam buku ini, bila didayagunakan masih menyimpan kekuatan spiritual untuk menangkal berbagai intervensi negatif yang kerap muncul dalam kehidupan ini.

Mikul dhuwur mendhem jero (memikul tinggi, mengubur dalam-dalam). Peribahasa ini menjadi semacam nasihat bijak agar seorang anak seyogianya selalu berbakti pada kedua orangtuanya. Mikul dhuwur, artinya menghormati setinggi-tingginya sekaligus menghargai jasa-jasa orangtua, seperti menepati segala nasihat (selama itu positif dan tidak bertentangan dengan ajaran agama), memaafkan segala kesalahan dan lain sebagainya. Mendhem jero, artinya mengubur dalam-dalam aib atau kisah buruk mereka ketika mereka telah tiada, bukan malah membeberkannya ke hadapan publik (hal 29-30).

Dalam kehidupan sehari-hari, orang Jawa dikenal sangat berhati-hati menjaga pergaulan dan etika dengan sesama. Ini identik dengan peribahasa aja ngomong waton, nanging ngomonga nganggo waton (jangan asal bicara, tetapi bicaralah dengan dengan menggunakan patokan atau alasan yang jelas). Peribahasa ini mengajarkan seseorang agar ketika berbicara dengan orang lain, tidak ‘ngayawara’ atau ngawur. Usahakan setiap pembicaraan benar-benar memiliki landasan atau alasan yang jelas serta dapat dipertanggungjawabkan. Biasanya, peribahasa ini digunakan untuk mengingatkan siapa saja yang senang menjelek-jelekkan orang lain, menyebarkan berita bohong dan lain sebagainya (hal 9-10).

Pepatah Jawa mengatakan anak polah bapa kapradhah, bapa kesulah anak kapolah. Artinya, anak bertingkah, bapak atau orangtua yang bertanggung jawab, orangtua akan dihukum dengan dihujani tombak, maka anak pun ikut merasakannya. Peribahasa ini biasanya digunakan untuk menyindir orangtua yang suka berlebih-lebihan dalam memanjakan anak-anaknya tanpa mempertimbangkan baik buruk serta manfaat dari permintaan si anak. Maka, ketika ada anak membuat ulah atau melakukan hal yang merugikan orang lain, orangtua mau tidak mau akan terkena imbas dan turut bertanggung jawab. Di sisi lain, perilaku orangtua juga bisa merepotkan si anak. Karena baik buruknya orang tua, si anak pun akan ikut terbawa-bawa, (hal 21-22).

Orang Jawa dikenal memiliki semangat persaudaraan tinggi. Semangat ini membuat mereka mudah bergaul, menjalin persahabatan dengan siapa saja. Orang Jawa menganggap persaudaraan atau patembayatan termasuk salah satu cara ideal untuk menemukan ketenteraman dalam menjalani kehidupan. Sebagaimana peribahasa dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan (bukan saudara bukan kerabat kalau meninggal ikut kehilangan). Peribahasa ini menjadi simbol eratnya sistem kekerabatan di tanah Jawa, di mana semua warga dihargai tanpa membeda-bedakan keturunan maupun hubungan darah. Tak heran ketika ada salah satu di antara mereka meninggal, meski bukan kerabat sedarah, mereka akan merasa turut kehilangan, (hal 36-37).

Peribahasa-peribahasa menarik lainnya dapat Anda temukan dalam buku ini. Seperti; kriwikan dadi grojogan (aliran air yang kecil akan menjadi air terjun). Pada hakikatnya masalah kecil dan sepele jika dibiarkan akan berubah menjadi masalah besar yang membahayakan (hal 99-100). Sapa ubet bakal ngliwet (siapa cerdik, akan menanak nasi). Artinya siapa pandai mengatur atau mengelola kehidupan, pasti ia dapat menanak nasi setiap hari. Peribahasa ini menjadi ‘simbol kesuksesan’ bagi siapa saja yang ulet dan pantang menyerah dalam menggapai mimpinya (hal 135-136).  Jer basuki mawa beya (sudah seharusnya tiap kesejahteraan memerlukan pengorbanan). Atau dalam arti luas, tiap kesuksesaan itu tidak ada yang instan, tapi butuh perjuangan dan pengorbanan (hal 147-148).

(Sam Edy Yuswanto, penulis lepas tinggal di Kebumen

 

Judul

: Kitab Nasihat Hidup Orang Jawa

Penulis

: Imam Budhi Santosa

Penerbit 

: DIPTA

Tahun

: 2013

Genre 

: Peribahasa

Tebal

: 240 Halaman

ISBN

: 978-602-255-297-0

 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
PERIBAHASA

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"The pleasure of all reading is doubled when one lives with another who shares the same books." ~ Katharine Mansfield

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 29273314

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit