Rumah Seribu Cermin Cetak E-mail
(2 votes)

Rumah Seribu CerminOrang-orang tua dulu sering mendongengkan kisah pendek kepada anak-anak agar cepat tidur untuk menanamkan karakter. Ajaran-ajaran moral tidak segencar yang dilakukan saat ini, tetapi kondisi moral anak saat ini tidak lebih baik dari zaman dulu.

Kebiasaan mendongeng menjelang tidur kini sudah sirna. Padahal, kearifan-kearifan dongeng merupakan pendidikan yang tidak bisa diabaikan. Alangkah tepatnya kehadiran buku Rumah Seribu Cermin karya John Rinaldi yang berisi 75 dongeng dan kisah pendek yang sarat pelajaran hidup ini. Salah satu kisah, "Bersiap Menghadapi Kehilangan", misalnya, menceritakan seorang pria yang menemukan sebuah koin kuno penyok. Uang kuno itu dibawa ke kolektor dan dihargai 30 dollar.

Uang tersebut dibelikan beberapa kayu untuk tempat penyimpanan jambangan dan stoples. Di tengah jalan, seorang ahli mebel tertarik untuk menukar kayu-kayu tersebut dengan sebuah lemari bagus. Kebetulan, lemari tersebut sesuai dengan keinginan istrinya. Tanpa berpikir panjang, lelaki itu menukar lembaran kayu dengan lemari. Dalam perjalanan pulang, dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya tertarik membeli lemari milik lelaki itu seharga 250 dollar.

Betapa senangnya sang pria. Ia akan memperoleh keuntungan berlipat. Di pintu desa, ia menghitung lembaran uang bernilai 250 dollar. Saat itu, seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang, lalu kabur. Ketika istrinya menanyakan apa yang dirampok, dijawab, "Hanya sebuah koin yang kutemukan tadi pagi" (halaman 13–15). Jawaban lelaki tersebut mengajarkan kearifan yang sangat berharga. Di zaman mutakhir ini, orang-orang meyakini harta miliknya mutlak hak prerogatifnya. Padahal, semua harta yang dimiliki merupakan titipan Tuhan. Kisah serupa terdapat pada judul "Kejujuran yang Menyelamatkan Jiwa" yang menceritakan seorang anak lelaki bersama enam saudaranya. Orang tuanya seorang buruh tani, padahal tujuh bersaudara itu masih sekolah. Setiap hari, anak-anak ke pasar berjualan asongan selepas pulang sekolah guna membantu keuangan keluarga. Saat menjajakan dagangan, salahsatu bocah menemukan bungkusan koran yang berisi uang.

Ia tak gembira sama sekali, justru sedih. Uang tersebut pasti ada pemiliknya. Setelah ke sana ke mari mencari si pemilik, anak itu akhirnya menemukan pemilik uang tersebut. Sesampai di rumah, ia menceritakan kejadian itu kepada ibunya. Sang ibu bangga atas kejujuran anaknya. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana (halaman 81–83). Mencari tokoh seperti dalam kisah itu semakin langka. Setiap orang bisa berlaku seperti itu. Kearifan demikian juga dapat dipetik dari kisah "Cincin Pak Tani" (halaman 194–196). Alkisah, seorang petani kaya punya dua putra. Dia meninggal.

Peninggalannya berupa cincin emas dan perunggu. Sang kakak mengambil cincin emas, sedangkan adiknya diberikan cincin perunggu. Kedua cincin tersebut bertuliskan "Ini pun akan berlalu." Kakak beradik tersebut mengalami jatuh bangun kehidupan. Saat panen berhasil, kakak berpesta dan mabukmabukan. Saat gagal panen, dia menderita batin karena banyak utang. Akhirnya, dia menjual cincin emasnya untuk membeli obat-obatan.

Adapun saat si adik berhasil panen, ia mensyukurinya dan teringat pesan yang tertulis pada cincin tersebut, "Ini pun akan berlalu". Saat panen gagal, dia juga ingat pesan tersebut sehingga tidak larut dalam kesedihan. Ia sadar bahwa keberhasilan dan kegagalan tidak akan kekal. Kisah-kisah yang terdapat dalam buku Rumah Seribu Cermin dikemas dengan bahasa yang lugas. Sudah saatnya pembaca menghayati kembali pesan moral dalam dongeng atau kisah pendek sebagai pembentuk karakter generasi masa depan bangsa. (Suhairi Rachmad - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

Judul

: Rumah Seribu Cermin

Penulis

: John Rinaldi

Penerbit 

: Diva Press

Tahun

: 2013

Genre 

: Kumpulan Cerita Pendek

Tebal

: 226 Halaman

ISBN

: 978-6022-551-46-1

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
KUMPULAN CERITA PENDEK

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"All books are divisible into two classes, the books of the hour, and the books of all time." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 26294511

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit