Beasiswa di Bawah Telapak Kaki Ibu Cetak E-mail
(2 votes)

Beasiswa di Bawah Telapak Kaki Ibu"Surga di bawah telapak kaki ibu." Ungkapan populer itulah yang telah mengilhami Irfan Amalee menulis buku berjudul Beasiswa di Bawah Telapak Kaki Ibu. Buku ini berkisah tentang kisah perjuangannya meraih beasiswa kuliah S2 di Harvard University, Amerika.

Sejak awal, niat Irfan melanjutkan kuliah ke luar negeri tidak disetujui oleh ibunya. Ibunya khawatir jika ia harus meninggalkan pekerjaan yang sudah mapan, belum lagi ia harus menafkahi istri dan dua orang anaknya. Tentu saja hal itu menjadi alasan kuat bagi ibu Irfan untuk tidak setuju jika ia melanjutkan kuliah ke luar negeri. Ditambah lagi, naluri seorang ibu yang tidak ingin ditinggal jauh oleh anaknya.

Namun, keinginan Irfan untuk melanjutkan kuliah semakin kuat. Bekerja lebih dari tujuh tahun setelah lulus S1 membuat ia merasa rindu suasana akademik dan merasa harus segera mengasah gergaji (belajar lagi).

Perjalanan Irfan dalam meraih beasiswa tidaklah mudah, bahkan ia sempat putus asa karena selalu gagal mendaftar beasiswa ke luar negeri. Setidaknya, tiga lamaran beasiswa ia layangkan setiap tahun selama empat tahun berturut-turut, namun selalu ditolak. Padahal semua usaha sudah ia kerahkan: surat rekomendasi dari tokoh besar Indonesia, transkrip ijazah dengan nilai memuaskan, serta CV yang meyakinkan (halaman 22).

Saat di ujung putus asa, pada tahun 2010, Irfan mendapat surat kelulusan tahap awal beasiswa IFP Ford Fondation. Ayahnya pun mendukung Irfan mengikuti tes beasiswa ini. Meskipun telah berhasil menjalani proses seleksi, mulai dari seleksi administrasi, seleksi tulis, hingga seleksi bahasa, Irfan ternyata masih gagal meraih beasiswa tersebut karena tidak lolos pada tahap tes wawancara (halaman 23).

Kegagalan itu membuat Irfan sadar ternyata doa ayah barulah separo ridho Allah. Separo lagi ada pada doa ibu yang saat itu belum membukakan pintu restunya.

Suatu ketika, ibunya jatuh sakit. Ia pun berusaha lebih sering mengunjungi dan memijit ibunya. Di sela-sela memijat ibunya, Irfan sering curhat akan mimpinya untuk bisa belajar ke luar negeri. Ia juga menuturkan bahwa pendidikan bukanlah suatu keinginan, melainkan suatu kebutuhan untuk bekal di masa depan nanti. Meskipun tidak bermaksud merayu, ternyata hati ibu Irfan mulai berubah. Ibunya akhirnya merestui Irfan belajar ke luar negeri.

Singkat cerita, selang tiga hari setelah kunjungan Irfan ke rumah ibunya, ia mendapat kabar bahwa salah seorang pendaftar beasiswa IFP Ford Fondation mengundurkan diri, dan Irfan adalah peserta yang terpilih untuk menggantikannya (halaman 25). Sejak kejadian itu, Irfan semakin yakin bahwa restu ibu mampu mengubah takdir.

Dalam buku ini, Irfan juga bercerita mengenai pengalaman pribadinya selama menempuh studi di negeri Paman Sam. Banyak pengalaman menarik yang ia ceritakan ketika ia tinggal di Amerika bersama istri dan kedua anaknya, salah satunya potret toleransi antarumat beragama di kalangan masyarakat Amerika. Di Amerika, semua umat beragama bebas menjalankan aktivitas keagamaannya.

Kerukunan beragama juga tecermin saat Masjid Watham selama lebih dari lima tahun menggunakan lahan parkir gereja megah bergaya Eropa saat umat muslim menjalankan salat jumat, tarawih, atau Lebaran di masjid tersebut. Bahkan Irfan pernah bertemu dengan seorang mahasiswa Yahudi yang rajin mengikuti kegiatan mahasiswa muslim di kampus. Mahasiswa tersebut menceritakan bahwa di wilayahnya umat Islam dan Yahudi bekerja sama dalam program Community Service. Setiap Ramadan dan Lebaran, umat Islam menggunakan dapur umum Yahudi mengingat dapur mereka yang menerapkan standar kosher yang pork free, bebas dari makanan yang mengandung babi (halaman 105).

Di samping membagi pengalamannya mendaftar beasiswa kuliah ke luar negeri lengkap dengan cerita-cerita menariknya selama di Amerika, Irfan yang dulunya merupakan santri di Pondok Pesantren Darul Arqom Garut mengundang tujuh teman santrinya yang kini telah berhasil meraih beasiswa ke luar negeri untuk berbagi tip kepada pembaca.

Salah satu tip menarik untuk berhasil mendapatkan beasiswa adalah tip dari Fahd Djibran. Menurut dia, salah satu tip agar berhasil mendapat beasiswa tidak hanya cukup dengan usaha lahiriah, seperti halnya memiliki skor TOEFL tinggi dan riwayat prestasi yang bagus, tetapi juga harus ada usaha batiniah, yakni berdoa dan minta didoakan, terutama oleh ibu. Fahd Djibran, adik kelas Irfan yang dianggap anak ajaib itu mengaku bahwa ia mendapatkan beasiswa di Departemen Hubungan Internasional, Monash University, Australia, 65 persennya adalah kekuatan doa, terutama doa ibu. Bahkan dalam buku ini, Djibran bergurau, karena saking saktinya, mungkin hanya doa para ibu yang bisa mengalahkan FC Barcelona (halaman 175).

Melalui buku ini, Irfan ingin mengajak pembaca menyadari bahwa tidak hanya kecerdasan intelektual yang dibutuhkan seseorang untuk meraih sukses, namun juga kecerdasan emosional dan spiritual (doa). Alhasil, buku dengan sampul unik ini layak menjadi buku pedoman bagi para pemburu beasiswa dan siapa saja yang ingin mengenal Amerika lebih dekat. Selamat membaca! (Muhammad Shobaruddin - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

Judul

:

Penulis

:

Penerbit 

Tahun

:

Genre 

Tebal

ISBN

:

 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
KISAH NYATA

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"Books are not made for furniture, but there is nothing else that so beautifully furnishes a house." ~ Henry Ward Beecher

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 28331632

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit