Tuhan yang Kesepian Cetak E-mail
(2 votes)

Pahala di atas Pahala

Tuhan yang Kesepian

Aksi kekerasan mengatasnamakan agama masih saja terus terjadi di Tanah Air. Aksi teror bom mengatasnamakan agama, membakar tempat peribadatan, hingga sweeping tempat-tempat tertentu yang dianggap "sarang" maksiat dilakukan juga dengan mengatasnamakan agama oleh sekelompok ormas tertentu (contoh terbaru kasus Front Pembela Islam di Kendal, Jateng).

Alhasil, agama (dalam hal kasus ini Islam) tidak lagi tampil dengan wajah yang cerah dan damai, melainkan buram, beringas, penuh kekerasan, dan permusuhan.

Buku Tuhan Yang Kesepian karya Tasirun Sulaiman rasanya hadir pada saat yang tepat. Saat bangsa tengah mendambakan "asupan" pesan moral akan pentingnya membangun fondasi toleransi kehidupan beragama.

Buku ini secara tegas mengajak bangsa merenungi beberapa problematika kehidupan sosial yang dirasa belum sepenuhnya menjunjung tinggi toleransi. Ini khususnya dalam hal menghargai perbedaan paham dan pendapat tanpa harus mengedepankan ego yang memicu permusuhan (tasamuh), khususnya dalam hal-hal yang berbau agama dan keyakinan.

Orang lain dengan mudah dituduh sesat, kafir, dan bid’ah seperti dilakukan rekan-rekan Front Pembela Islam terhadap golongan-golongan tertentu yang berbeda pendapat hingga berbeda agama. Lebih jauh lagi, dengan melakukan aksi anarkis main hakim sendiri yang meresahkan masyarakat umum.

Perlu dipahami bahwa lantaran sikap mengucilkan yang lain itulah banyak ulama dan sufi dianiaya dan dibunuh. Banyak makam wali dan ulama dihancurkan. Bahkan, ada inisiatif menghancurkan makam Rasulullah lantaran banyak kaum muslim yang hendak ziarah dan mengagung-agungkannya, saat ada beberapa kalangan yang tidak sepakat menganggapnya bid’ah. Sangat dibutuhkan jiwa toleran kita (hal 157).

Dari itu semua dapat disimpulkan bahwa seseorang tidak boleh sekali-kali melakukan absolutisme dalam mencari kebenaran. Sikap ini sama saja, kebenaran dapat diperoleh secara absolut sehingga menutup pintu rapat-rapat kemungkinan saudara kita menemukan kebenaran serupa.

Hal demikian amatlah mustahil, tidak saja karena bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW untuk bersikap toleran, tetapi juga sikap absolutisme seperti demikian hanya akan mengarahkan para pelakunya pada sikap pemberhalaan diri (thoghut). Ini hanya menganggap diri kita yang paling benar dan menganggap orang lain selalu salah manakala mereka berbeda paham dan pendapat. Ini sangat menyedihkan.

Hal lain yang juga harus kita sadari bersama adalah kesalahan kita dalam memaknai substansi dari ibadah yang kita jalankan, khususnya dalam hal mendapatkan pahala dan ganjaran dan Tuhan. Pahala masih dianggap sebagai tujuan utama dan melupakan kemanfaatan spiritualitas lainya. Keberadaan pahala seakan menjadi tameng simbolik dari sebuah pelaksanaan ibadah dalam pemikiran banyak orang. Banyak penceramah dan ustaz yang mengiming-imingi jika kita melakukan suatu ibadah akan mendapat pahala sebesar ini dan itu, terlebih kalau melakukanya di bulan puasa, pahala akan dilipatgandakan.

Akhirnya banyak dari kita yang lebih memilih instan dalam hal ibadah dengan iming-iming pahala yang banyak tanpa harus capai ataupun lelah. Padahal, pahala hanyalah hitungan matematis simbolik, yang substansi utamanya untuk menguji sejauh mana kesabaran dan keikhlasan kita dalam beribadah. Pernakah kita berpikir demikian? (hal 115).

Penulis mengingatkan kita tidak mungkin hidup dengan mengunci diri dari gempuran luar seraya berlaku apologetik atau membela diri dengan cara-cara yang tidak dibenarkan agama. Maka, menganggap diri kita paling benar, baik kepada sesama muslim atau nonmuslim, adalah sebuah pelanggaran terhadap ajaran dan keyakinan dan agama kita yang menyatakan bahwa manusia sebenarnya masih berusaha mencari kebenaran lewat memahami ayat-ayat-Nya.

Harapannya, dengan membaca buku ini pola pikir kita dapat tergerak untuk senantiasa menjunjung tinggi sikap toleran dalam segala perbedaan pendapat tanpa mengdepankan ego pribadi maupun golongan. (Dito Alif Pratama - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

Judul

: Tuhan yang Kesepian

Penulis

: Tasirun Sulaiman

Penerbit 

: Bentang Pustaka

Tahun

: 2013

Genre 

: Islam

Tebal

: 204 Halaman

ISBN

: 978-6027-888-08-1

 

   
   
   
   
   
   
   
Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
ISLAM

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

“After all manner of professors have done their best for us, the place we are to get knowledge is in books. The true university of these days is a collection of books.” ~ Albert Camus

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 28559971

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit