Pasung Jiwa Cetak E-mail
(2 votes)

Pasung JiwaSejak kecil, Sasana sudah diharapkan orang tuanya menjadi pianis. Untuk itu, dia dileskan piano dengan seorang guru yang datang ke rumah seminggu dua kali. Berangsur-angsur, Sasana menunjukkan kemahirannya bermain piano. Saat SD, dia sudah piawai memainkan komposisi klasik dunia, seperti Beethoven, Chopin, dan Mozart. Tidak sedikit orang yang kemudian kagum dan iri pada kemampuan Sasana.

Sayang, kemampuan memainkan piano itu tidak membuat Sasana bahagia. Dia justru menganggap bermain piano sebagai beban. Dia mau memainkan piano bukan karena suka, melainkan tidak ingin mengecewakan orang tuanya. Ayah-ibu Sasana memang bukan pemain musik. Profesi ayah pengacara, ibu dokter. Mereka bisa memainkan piano ala kadarnya. Orang tua pikir, denting musik piano itu akan mencerdaskan anak, (hal 16-17).

Sampai suatu ketika, Sasana berkesempatan mendengar musik dangdut dari sebuah acara hajatan. Anehnya, baru pertama kali dengar, dia langsung jatuh hati. Tanpa sadar, dia ikut menyanyikan syair lagu yang bisa langsung dihapalnya sambil menggoyangkan tubuh.

Sejak itulah, Sasana tidak bisa lagi memainkan tuts-tuts piano karena di benaknya yang terngiang hanya suara musik dangdut. Tentu saja, orang tua kecewa dengan keadaan anaknya ini, (hal 26).

Di sisi lain, orang tua terus memaksakan kehendaknya untuk membentuk Sasana sesuai keinginan. Dia dimasukkan secara paksa ke sebuah sekolah khusus laki-laki agar lebih bersifat jantan. Sayangnya, di sekolah ini dia sering diperas kakak-kakak kelas. Nyaris setiap hari, Sasana pulang dengan keadaan babak-belur, (hal 32-33).

Kejadian itu terngiang-ngiang terus di benak Sasana. Berangsur-angsur dia menjadi benci laki-laki. "Aku jadi membenci laki-laki. Membenci diriku sendiri yang jadi bagian laki-laki. Jika aku bukan laki-laki, aku tak akan masuk sekolah ini. Jika aku tak masuk sekolah ini, aku tak akan menderita seperti ini", (hal 35).

Di sisi lain, Sasana menyimpan rasa iri pada adiknya yang cantik jelita karena bisa mengenakan baju-baju manis yang berlainan model. Pelan-pelan, Sasana justru ingin menjadi perempuan yang lembut, indah, dan tak suka kekerasan, (hal 44).

Selepas SMA, Sasana harus tinggal jauh dari orang tua karena kuliah di luar kota. Pada periode ini, dia mulai memiliki kebebasan yang leluasa. Pada saat ini pula, dia berkenalan dengan Cak Jek, seorang pemuda pengangguran. Bersama Jek yang pandai memetik gitar, dia kemudian mulai mengamen lagu-lagu dangdut dari warung ke warung.

Akibatnya, kuliah Sasana terbengkalai. Tapi, dia tidak kecewa karena dengan mengamen bisa menyanyikan lagu dangdut kesukaannya, bisa bergoyang sesuka hati, dan bisa memakai baju perempuan yang dia idam-idamkan. Dia bahkan berganti nama menjadi Sasa, seorang biduan waria, (hal 55-56).

Tapi, hidup bebas yang Sasana rasakan, tidak berumur lama. Peristiwa pembunuhan buruh yang sangat vokal menentang para pemilik pabrik, menyeret Sasana dalam arus konflik yang membuatnya dituduh sebagai antek PKI. Dia bahkan dimasukkan ke penjara. Di penjara, dia menerima perlakuan biadab. Selain diberi makan yang tidak layak, juga kerap dipaksa melayani kebutuhan seks para tentara secara bergilir.

Apa dan bagaimana Sasana meraih kebebasan hidupnya? Temukan jawabannya di novel karya pemenang Khatulistiwa Literary Award 2012 ini. Informasi penting yang dapat ditemukan di novel ini antara lain bahwa tidak selalu waria menyukai laki-laki, meski dirinya bersifat layaknya perempuan. Bahkan, ada waria yang menyukai perempuan, (hal 284-285). (Thomas Utomo - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

Judul

: Pasung Jiwa

Penulis

: Okky Madasari

Penerbit 

: Gramedia Pustaka Utama

Tahun

: 2013

Genre 

: Novel Fiksi

Tebal

: 328 Halaman

ISBN

: 978-979-22-9557-3

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Tebar Manfaat - Ikatan Alumni SAP KIT
 Program Santunan Anak Yatim di VILA QUR`AN FATHUL MUBIIN BANDUNG (*)

Donasi bisa disalurkan melalui rekening:

Bank SYARIAH MANDIRI ( 7111-8856-77 )

a/n: Ghani Hikmawan

(*acara pada tanggal 09 Desember 2017)

***

konfirmasi donasi ke: 3543be3679047cc27c67d19a6e7d8e19

Beibiiyku Online Shop
Sponsor
Resensi Genre Terkait
NOVEL FIKSI

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Dare To Make Mistakes; Kreatif Berinovasi dan Bera...
Bagus ini ...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"A book worth reading is worth buying." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 25236871

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit