Semua Ada Waktunya Cetak E-mail
(1 vote)

ENAM perempuan dalam buku ini mengisahkan pengalaman mereka kala belahan jiwa berpulang ke alam baka dan melalui hari-hari selanjutnya. Saparinah Sadli, Sinta Nuriyah, Widyawati, Suciwati, Damayanti Noor, dan penulis buku ini, Magdalena Sitorus, bercerita tentang riwayat percintaan dan masa suka-duka ketika menjadi pendamping hidup mendiang Mohammad Sadli, Abdurrahman Wahid, Sophan Sophiaan, Munir Said Thalib, Chrisye, dan Asmara Nababan.

Dalam pengantar, Soetandyo Wignjosoebroto menulis, "Inilah kisah enam perempuan yang diceraikan dari suami-suami mereka dan tak bisa menolak takdir kematian, namun tetap memperlihatkan betapa kuatnya ketetapan hati mereka untuk mencintai dia yang telah tiada." (halaman xiv). Mengapa memilih seorang lelaki untuk menuliskan pengantar? Magdalena menjelaskan Prof Soetandyo juga telah kehilangan istrinya sehingga "baik juga bila ada sosok laki-laki dengan pengalaman yang sama turut berkontribusi" (halaman 16).

Semua Ada WaktunyaDalam buku ini, diceritakan bahwa menjadi seorang perempuan yang ditinggal mati suami mesti memiliki ketabahan hati tingkat tinggi. Acap kali, terdapat sinisme di masyarakat yang membuat banyak lelaki enggan berkomunikasi secara wajar dengan para janda. Ini berbanding terbalik dengan sikap mereka kala suami masih hidup.

Magdalena menuturkan alasan teman lelaki yang tiba-tiba menjauhinya setelah suaminya, Asmara Nababan, meninggal dunia. "Magda itu kan sudah tidak ada suaminya. Aku justru mau melindungi dia. Apa kata orang kalau aku menegur dan ngobrol dengan dia." (halaman 5). Magda melihat hal itu sebagai topeng yang membungkus joroknya pikiran kaum lelaki. Betapa rendah perempuan yang sudah tidak bersuami sehingga masih bersuami saja, kadangkala dianggap warga kelas dua, apalagi tanpa suami (halaman 1-16).

Buku ini khas sebab, kendati sejatinya merupakan semacam reportase, seolah-olah membiarkan narasumber menuliskan sendiri pengalamannya. Kecuali Saparinah Sadli dan Sinta Nuriyah, tokoh lain dalam buku ini ditulis dengan perspektif menggunakan "aku" sehingga terasa intim. Widyawati, misalnya, yang menolak disebut "janda Sophan Sophiaan", menceritakan kisah manis pertemuan pertamanya dengan suami ketika shooting Pengantin Remaja (1970) hingga kepedihan ditinggal Sophan (halaman 75-100).

Jeritan hati Suciwati lantaran tak ada keadilan bagi suaminya, Munir Said Thalib, dipaparkan dengan gamblang. Sebagai istri pejuang hak asasi manusia terkemuka, Suciwati akhirnya harus merasakan yang pernah dialami suaminya semasa hidup: dari perbenturan pendapat yang tak kunjung usai di ruang advokasi (halaman 130) sampai teror "paket tahi ayam" dari oknum tertentu yang merasa terusik dengan langkahnya mempertanyakan kematian Munir (halaman 120).

Lebih lanjut, buku ini merangkai keteguhan hati, semangat hidup, kemandirian, dan kecintaan abadi seorang perempuan terhadap belahan hatinya. Betapa Saparinah Sadli terus berjuang di ranah akademis meski Sadli telah berpulang. Saparinah dan Sadli adalah pasangan yang kesetiaannya patut diteladani karena tetap bersama kendati tak pernah dianugerahi momongan (halaman 28).

Elan Sinta Nuriyah dan Damayanti Noor juga patut diacungi jempol. Sinta tanpa lelah memperjuangkan toleransi dan pluralisme yang digagas suaminya, Abdurrahman Wahid, dengan mendirikan Yayasan Puan Amal Hayati (halaman 61). Sementara Damayanti melanjutkan kegiatan seni yang dicita-citakan suaminya, Chrisye (halaman 167-170).

Buku ini seakan-akan hendak menegaskan jangan lagi memandang para janda secara picik dan negatif. Ada banyak yang dapat mereka kerjakan untuk merawat kecintaan terhadap suami yang mendahului pulang ke alam baka. (AP Edi Atmaja - sumber: www.koran-jakarta.com)

 

Judul

: Semua Ada Waktunya

Penulis

: Magdalena Sitorus

Penerbit 

: Jalasutra

Tahun

: 2012

Genre 

: Motivasi

Tebal

: 230 Halaman

ISBN

: 978-6028-252-85-0

 

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
MOTIVASI

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"All books are divisible into two classes, the books of the hour, and the books of all time." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 28545260

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit