Ngeteh di Patehan; Kisah Beranda Belakang Keraton Yogyakarta PDF Cetak E-mail
(1 vote)
Judul : Ngeteh di Patehan; Kisah Beranda Belakang Keraton Yogyakarta
Penulis: Alimudin Daing, Devi Dean Aw, Iffah Karimah, Ikrar Pribadiansyah, Jaya Adi Praptama,
 : Nurhidayah, Nurul Khusnah, Satya Putranto, Tri Dewi Kartini, Teta Fathiyah
Penerbit : Indonesia Buku
Tahun: 2011
Genre : Sejarah Nasional
Tebal: 522 Halaman
ISBN: -

 

 

 

 

 

 

Sejarah adalah biografi orang-orang besar. Berisi beberan peristiwa luar biasa. Heroik. Mengharu biru. Tidak saja penuh leleran keringat, tapi juga darah yang tertumpah. Ada yang kalah, ada pula yang menang. Ada menguat dan menjadi ingatan umum, ada pula yang melemah dan seterusnya pupus. Begitu makna sejarah yang dimengerti oleh sementara kita.

Kini, tiap diri berhak menuliskan sejarahnya masing-masing.  Tiap orang berhak membubuhkan catatan kaki atas segenap peristiwa yang dialami. Baik pengalaman yang bersifat material—pengalaman yang diperoleh karena perpindahan wadag, maupun yang bersifat perenungan, pemahaman, dan persepsi. Tak terkecuali sejarah kampung.

Ada banyak buku yang mengulas Yogyakarta. Dan satu entri yang tidak pernah luput dari pembahasan adalah keraton. Di Yogyakarta keraton tidak saja menjadi tetenger fisik tapi juga simbol budaya. Hanya saja ada yang kurang dari berderet buku yang mengulas keraton Yogyakarta. Yaitu selalu menjadikan “beranda depan” keraton sebagai tema utama dan keseluruhan, sementara “beranda belakang” luput dari pandangan. Sehingga pemahaman khalayak pembaca terhadap keraton Yogyakarta tidak lengkap. Yang muncul kemudian adalah wacana tunggal (mainstream) atas penjelasan sosio-etnografis keraton Yogyakarta. Keraton tercerabut dari akar sosial di mana situs bersejarah tersebut berlokasi.

Tentang menulis sejarah kampong Patehan, pada mulanya adalah soal kesadaran, tulis Muhidin M Dahlan di lembar kata pengantar, kesadaran memberi makna dan perspektif baru di mana warga berpijak, bernafas, dan melakukan kerja rutinnya tiap hari. (Hlm. 15). Menjadi salah satu media yang berpamrih menggali potensi yang ada di sekitar kita sekaligus mengenali, mempelajari, menghayati, dan menerapkan nilai-nilai lokal sebagai identitas diri. (Hlm. 443)

Patehan terletak di sebelah barat Alun-Alun Selatan. Kampung ini secara administrasi dibagi menjadi empat kampong kecil. Meliputi Patehan, Nagan, Ngadisuryan, dan Taman.

Patehan berasal dari bahasa Jawa yang artinya “the” atau “penyedia teh”. Mendapat perfek “pa” dan mendapat suviks “an”. Artinya bukan setiap hari membuat teh. Bukan berasal dari kata “Patih” seperti asumsi kebanyakan orang selama ini. (hlm 28 dan 461)

Menurut keterangan Faiz Ahsoul—koordinator riset buku ini sekaligus penulis lembar penutup yang memuat cerita di balik penulisan Ngeteh di Patehan— saat bertemu dengan saya di Banten akhir September lalu, menjelaskan paling kurang ada lima tujuan dari program menulis sejarah kampung ini. Pertama—saya tulis secara verbatim—memberdayakan warga sebagai subjek yang otonom memberikan makna baru bagi kampung mereka, baik dalam segi sejarah maupun potensi-potensi yang ada dalam kampung. 

Kedua, mengampanyekan tradisi membaca dan menulis sejarah sebagai bagian dari kehidupan kolektif masyarakat yang memiliki multifungsi dan bisa dipelajari dalam proses belajar bersama.

Ketiga, memberi kesempatan pada generasi sebuah zaman dalam komunitas warga untuk memberikan kontribusi positifnya, khususnya bagi penggalian, pengolahan, maupun pandangan masa depan atas sebuah masyarakat. Dengan demikian diharapkan tumbuh cara berfikir historis (manusia yang berkesadaran sejarah).

Keempat, melestarikan kearifan lokal dengan mendokumentasikan peristiwa dan komponen sejarah lainnya melalui media tulisan (buku). Kelima, masyarakat bisa membandingkan kegagalan dan keberhasilan masa lalu kampungnya dengan situasi kekinian.

Linear dengan judulnya, buku ini memuat sisik melik bertalian dengan Kampung Patehan. Mulai dari asal usul yang memuat sejarah nama kampung serta meneruka jejak cerita di balik setiap artefak  bersejarah. Mulai dari Alun-Alun Kidul, Siti Hinggil, Pesanggrahan Taman Sari, Pojok Benteng Kulon, Joglo Lawak, Kemagangan hingga Plengkung Nirbaya (hlm 23-60).

Pada pagina ke-91 hingga 165 buku ini menguak hal ihwal Sistem Sosial. Secara khusus Sistem Sosial membabar soal Bahasa, Sistem Teknologi, Sistem Pengetahuan, Sistem Ekonomi, Sistem Religi, dan Organisasi Sosial.

Potensi Ekonomi Kreatif, mulai dari makanan tradisional, obat-obatan, kerajinan, kesenian hingga permainan anak-anak dapat didaras pada lembar 81 s.d. 303. Tak kalah memikat, buku yang dicetak dengan bentuk dan kualitas yang eksklusif ini, juga memuat peta komunitas yang ada di Patehan. Ada banyak beragam komunitas. Baik komunitas literasi (taman baca, media), hobi (memancing, bersepeda), seni (karawitan) maupun kelompok umur (lansia, bala muda taman). Keseluruhan ada 28 komunitas (hlm 317-380).

Apa sebab lema komunitas ini perlu dibabar secara khusus?

Komunitas adalah kumpulan atau himpunan orang yang peduli satu sama lain lebih dari yang semestinya. Relasi atau pertalian yang berlangsung antar eksponennya bersifat pribadi, erat, dan emosional. Biasanya mereka dipersatukan oleh kesamaan hobi, kepentingan dan nilai.

Keberadaan komunitas ibarat potongan-potongan puzzle yang jika disusun akan membentuk satu gambar utuh. Gambar utuh dalam konteks sejarah kampung adalah menyangkut sistem norma, kekerabatan , sistem sosial, religi, dan ekonomi. Termasuk untuk menyimpulkan kecenderungan warganya dalamnya menggunakan waktu senggang (leisure time).

Secara khusus, pada bab terakhir, memuat tokoh-tokoh “pembuat sejarah” di Kampung Patehan. Pamrihnya hanya satu, peran tiap tokoh tersebut dapat menjadi inspirasi dan teladan bagi generasi selanjutnya. Sekaligus menegaskan pula bahwa tiap diri punya hak untuk menuliskan atau dituliskan sejarah jelujur kiprah hidupnya. (Agus M. Irkham)

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
SEJARAH NASIONAL

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

“After all manner of professors have done their best for us, the place we are to get knowledge is in books. The true university of these days is a collection of books.” ~ Albert Camus

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 32075528

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit