Jalan Menikung; Para Priyayi 2 Cetak E-mail
(15 votes)

Judul 

: Jalan Menikung; Para Priyayi 2
Penulis: Umar Kayam
Penerbit : Grafiti
Tahun: 2000
Genre : Novel Sastra
Tebal: 184 Halaman 
ISBN: 979-444-412-X

 Jalan Menikung; Para Priyayi 2

 

 

 

 

 

“Merantau itu pergi jauh. Kadang-kadang jauh, jauh sekali. Kadang-kadang rasanya sewaktu-waktu akan dapat kembali. Rasanya. Padahal jalan yang telah dilalui dan akan ditempuh begitu banyak menikung. Kita akan terus merantau. Bagaimanapun, jalan akan terus menikung..” (hal. 178)

Meski kalimat di atas terlontar dalam konteks pulang basamo, kala Lantip sekeluarga bertandang ke kampung halaman istrinya, Halimah, di tanah Minang, sesungguhnya penulis tengah mengemukakan bahwa merantau adalah bagian hidup. Alangkah banyak perubahan yang dapat kita temui sepanjang jalan, diduga atau tidak. Ada rencana yang terpaksa ditunda, ada yang diubah sesuai situasi dan kondisi, ada yang dipercepat, ada pula yang harus dilupakan sama sekali.

Sang perantau dalam novel ini adalah Eko, putra semata wayang Harimurti dan istrinya, Suli, yang terhitung sepupunya sendiri. Pengembaraannya sembari menuntut ilmu di bawah naungan keluarga Profesor Levin terpaksa diperpanjang karena sang ayah mencemaskan keselamatannya jika pulang tepat waktu. Harimurti sendiri didepak dari pekerjaan dikarenakan masa lalunya yang terlibat Lekra. Masa silam yang dipendam dalam-dalam, utamanya lantaran pedih mengingat sepasang bayi kembar yang tidak sempat berlama-lama menikmati udara dunia.

Siapa sangka, keputusan itu menggiring kejutan besar. Eko memutuskan untuk bertanggungjawab atas kehamilan Claire, putri keluarga Levin yang cukup intim dengannya. Mengemukalah ketercengangan Suli, ibunda Eko, mengingat Levin adalah pemeluk agama Yahudi. Isu sensitif ini digulirkan Umar Kayam dengan empuk, sehingga dengan bahasa sederhana diterangkanlah perkara-perkara yang kerap mengundang tanda tanya seperti mengapa bangsa Yahudi tersebar di mana-mana, dan apakah benar mereka kuat dalam segala bidang. Lewat dialog Eko dan Claire, terkuak semacam analogi yang menyejajarkan masyarakat keturunan Cina dengan orang Yahudi tersebut. Warga keturunan di Indonesia acap kali menjadi kelompok yang tersudut sekaligus menjadi sumber kecemburuan orang pribumi yang malas. Padahal Bob Saputra, salah satu menantu keluarga besar Sastrodarsono sendiri, tidak memiliki nama Cina sedari lahir.

Perubahan terlihat pula pada suasana yang berkembang antara masing-masing anggota keluarga Sastrodarsono. Tidak seperti buku pertamanya, Jalan Menikung menampilkan kehidupan metropolis dengan segala carut-marutnya. Rumah besar bergaya arsitektur Barat modern, misalnya, yang mencolok sedangkan para petinggi yang merupakan bos Eko di Amerika sendiri tidak hidup semegah itu. Dari sudut pandang Claire, muncul kegelian-kegelian karena sebutan blocking pada penataan piring sewaktu makan siang, wajah pemukim Jakarta yang kebanyakan murung terlepas dari banyaknya pencakar langit di sana, dan selipan amplop gemuk sebagai hadiah pernikahan dari beberapa paman dan bibi yang bersaing sebagai orang kaya baru.

Urusan pemugaran makam terkesan tidak digali mendalam, sebab konfliknya tidak meruncing sehebat Para Priyayi 1. Barangkali itulah prinsip damai yang diterapkan demi suasana adem di keluarga, kendati menyisipkan cerita bupati Wanagalih yang korup ketika diberi sumbangan guna memuluskan izin pemugaran makam oleh Tommi dan Bambang. Jeannette pun menutup mata akan hubungan gelap suaminya dengan Endang Rahayu Prameswari, walaupun anak mereka terang-terangan menjadikan itu senjata kala dirinya dianggap menoreh aib akibat hamil di luar nikah.

Lantip dan Halimah masih hadir sebagai karakter mengagumkan. Mereka menunda pernikahan sampai usia 45 tahun karena memerhatikan Harimurti, meskipun menanggung konsekuensi tidak memiliki anak setelahnya. Novel ini menghidangkan cerita-cerita menarik seputar dunia penerbitan di Amerika, keprihatinan Eko akan sikap terang-terangan saudaranya yang korupsi dan bahkan mengajarinya pula, serta gerutuan sopir taksi yang dipanggil Mas padahal dirinya asli Batak. Juga mengenai keberdikarian orang Jepang yang merasa hanya perlu berbahasa Inggris secukupnya, tetapi toh kemudian orang berbahasa ibu Inggris berduyun-duyun menerjemahkan karya sastra berbobot dari negeri matahari terbit itu.

Aroma Jawa tampil dari kebiasaan Harimurti dan Suli bermain gender di rumah. Juga permainan siter Eko yang dapat menenangkan putranya kala menangis di malam hari. Secara umum, Jalan Menikung tetap pada jalur konsep Umar Kayam yakni mengetengahkan karya sastra yang tidak membuat kening berkerut dalam, hingga novel yang tidak terlalu tebal ini asyik dicerna. (rini)

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (1)add comment

Ninin said:

 
Saya ingin sekali membaca buku ini..kalo mau beli caranya gimana ya...beli online gt maksudnya...
July 06, 2010

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
NOVEL SASTRA

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"All books are divisible into two classes, the books of the hour, and the books of all time." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 31801466

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit