Man Who Loved Books Too Much, the Cetak E-mail
(1 vote)
The Man Who Loved Books Too Much; Kisah Nyata tentang Seorang Pencuri, Detektif, dan Obsesi pada Dunia Kesusastraan
Judul : The Man Who Loved Books Too Much;
 : Kisah Nyata tentang Seorang Pencuri, Detektif, dan Obsesi pada Dunia Kesusastraan
Penulis: Allison Hoover Bartlett
Penerjemah : Lulu Fitri Rahman
Penerbit : Alvabet
Tahun: 2010
Genre : Kisah Nyata
Tebal: 300 Halaman 
ISBN: 978-979-3064-81-9

 

 

 

 

 

 

 

Cinta acap kali membuat orang gelap mata. Dengan mengatasnamakan cinta pada buku, John Gilkey yang mengaku terpengaruh pasangan filsuf Sartre dan Simone de Beauvoir merasa tidak bersalah melakukan tindak kriminal di sejumlah agen buku langka untuk memperoleh karya-karya hebat yang diincarnya. Bukan untuk dibaca, sebagaimana kebanyakan kolektor, namun semata menyalurkan dendam yang mendidih karena tidak mampu membeli dengan semestinya. Ia merindukan kebanggaan membuncah saat memamerkan lemari besar berisi buku-buku menawan kepada siapa saja yang bertandang ke rumah. Dan tentu saja, dikarenakan caranya memperoleh koleksi tersebut tidak halal, Gilkey tidak dapat melakukannya.

Kemungkinan besar, rasa ingin tahu akan motif Gilkey sehingga begitu nekad mempertaruhkan kebebasan dan berkali-kali menghuni ruang tahanan dengan sepak terjangnya itu, menjadi alasan Allison Hoover Bartlett menyidik secara mendalam dan menuliskan kisah ini. Tentu saja membosankan, apabila karakter sentral dalam sebuah karya hanyalah mereka yang duduk di posisi 'putih'. Terlebih ini kisah nyata, yang harus membeberkan suatu peristiwa atau fenomena dengan sejujur-jujurnya.

Sesekali, wawancara dan penelusuran Allison ditengahi pemikiran dan kenangan akan kepembacaannya sendiri. Selaiknya jurnalis yang harus berdiri di tengah-tengah, ia mengaku bukan kolektor atau pembaca buku yang berobsesi besar. Namun apa yang disingkapnya dari benak dan emosi Gilkey membuat Allison sangat mengapresiasi harta warisan orangtuanya, semisal buku-buku klasik yang kemudian ia hadiahkan kepada anak-anak tercinta.

Bab-bab awal buku ini mengantar kita pada sudut-sudut ruang toko buku langka yang menggetarkan hati, dengan koleksi yang memanggil-manggil untuk dimiliki serta menerbitkan godaan yang sukar ditampik. Bila pembaca adalah penggemar buku, yang bukan kolektor gigih sekalipun, namun merasakan betul jatuh-bangun mengumpulkan uang untuk memiliki sebuah buku, segala dalih dan argumentasi Gilkey tidak menjadikan tindakannya patut diacungi jempol. Kita akan dibuat gemas, jengkel, dan kesal, disertai kekaguman tersendiri kepada Ken Sanders yang pontang-panting menjalani perannya sebagai single father.

Keasyikan cerita menurun di pertengahan bagi yang kurang meminati detail-detail investigatif. Sedikit saja celah dalam penerjemahannya, itu pun relatif tidak mengganggu. Misalnya di halaman 261, "Aku menulis sebagian besar buku ini dari kantorku di rumah, yang memandang ke arah kebun herba kecil.." Agaknya, 'memandang' lebih tepat diartikan 'menghadap'.

Semakin menyimak polah Gilkey, yang memutar otak bahkan sampai melibatkan ayahnya dalam pencurian dan tetap merasa tidak bersalah bahkan bertambah kesumat saat dijebloskan ke dalam penjara membuat darah pembaca berpotensi menggelegak. Ingin mengunci lemari buku dan menggerendelnya, atau menorehkan kalimat-kalimat ini di setiap buku yang kita miliki,

"This book belongs to none but me

For there's my name inside to see.

To steal this book, if you should try,

It's by the throat that you'll hang high..' [hal. 263]

 

Memang Gilkey yang dipotret Allison dalam keseluruhan buku, namun The Man Who Loved Books Too Much juga merujuk pada Ken Sanders, sang detektif yang tak kenal lelah memastikan pencuri buku mendapat pelajaran setimpal, mengingat polisi tidak mengindahkan kasus pencurian semacam ini. (rini)

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
KISAH NYATA

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

“After all manner of professors have done their best for us, the place we are to get knowledge is in books. The true university of these days is a collection of books.” ~ Albert Camus

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 29702338

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit