Blakanis Cetak E-mail
(4 votes)
Blakanis
Judul : Blakanis
Pengarang: Arswendo Atmowiloto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2008
Genre : Novel Sastra
Tebal: 288 Halaman
ISBN: 978-979-22-3765-9

 

 

 

 

 

 

Mencari Blaka dalam Karya Arswendo

Jujur itu seperti bernapas. Kita tak perlu belajar lebih dulu, tak perlu mengatur bagaimana memulainya. Sedemikian sederhana, sehingga setiap orang mampu melakukannya. Tapi justru karena terlalu sederhana, begitu mudah melupakannya.

Blaka (bahasa Jawa) bisa berarti terbuka, jujur, apa adanya. Ini yang diajarkan lelaki agak tua dengan daun telinga kecil dan lubang hidung besar, yang menyebut diriya sebagai Ki Blaka. Lelaki yang nyaris tanpa prestasi apa-apa sebelumnya, yang ingin jujur dalam segala, untuk segala hal.

“Kira-kira, dengan berpura-pura jujur, kita mengingkari kejujuran. Juga ketika pura-pura bohong, kita mengingkari kejujuran. Kalau kita bohong, kita bisa meralatnya ketika kita blaka. Tapi ketika kita berpura-pura, kita lupa bahwa sebenarnya kita sedang berpura-pura.” Begitulah yang diajarkan Ki Blaka.

Blaka. Itulah tema sentral Arswendo dalam karya terbarunya yang diberi judul Blakanis. Ki Blaka sang tokoh sentral di sini menjadi panutan banyak orang dalam hal kejujuran. Dengan kesehariannya yang amat sangat sederhana tanpa tendensi macam-macam, semua orang percaya bahwa Ki Blaka benar-benar jujur kepada diri sendiri maupun kepada semua orang dan patut menjadi teladan. Namun Arswendo menjadikannya sebagai "anti-hero" melalui masa lalu Ki Blaka yang cukup kelam.

Melalui Blakanis, Arswendo meneriakkan kejengahannya atas segala kepalsuan yang terjadi pada bangsa kita. Ketidakjujuran yang diam-diam menggerogoti pondasi kehidupan bermasyarakat yang seharusnya berdasarkan saling percaya, sehingga kita tidak bisa lagi begitu saja percaya kepada orang lain. Dan saat ketidakjujuran berpadu dengan kekuasaan yang terjadi adalah penindasan dan kesewenang-wenangan terhadap yang lemah demi melanggengkan kekuasaan.

Blakanis seperti sketsa sosial kita –tapi dengan semangat cengengesan, bila perlu menyindir. Tentang tokoh apa saja –termasuk spiritual– yang bisa terlahir secara instan lantas punya true believers. Blakanis juga menyajikan sketsa tentang kegamangan selebritas urban yang merindukan sebuah jalan terang yang maunya tanpa gebyar tapi akhirnya toh tetap jadi magnet.

Arswendo cukup jujur dengan menuturkan bahwa menyampaikan segala sesuatu dengan terbuka apa adanya, tidak selalu akan membawa kebaikan. Ada orang-orang yang tidak menyukai orang lain menjadi jujur, apalagi jika kejujuran itu juga mengungkap kebohongan orang lain. Arswendo juga tidak mau mengkultuskan kejujuran sebagai puncak kebaikan. Kejujuran bukan berarti menjadi sakti. Kejujuran tidak bisa menghapus dosa, tapi bisa meringankan beban. Kejujuran juga tidak mendatangkan keuntungan besar, tapi mendatangkan kepercayaan yang terus menerus.

Munculnya Ki Blaka dan gerakan Blakanis di novel ini mungkin menjadi mimpi Arswendo tentang sebuah kondisi ideal saat semua orang mau berbicara dan bertindak dengan jujur, saat kejujuran mutlak bukanlah sesuatu yang bisa diterima dengan mudah dimana-mana. Ketika seorang mantan menteri di hadapan Ki Blaka dan seluruh peserta pertemuan mengakui berbagai kecurangannya yang tidak bisa dibuktikan oleh pengadilan, beberapa pihak mulai gelisah. Keberadaan kampung Blakan dengan gerakan kejujurannya terasa mengancam bagi orang-orang licik yang masih ingin melanggengkan kekuasaannya. Ki Blaka dan simpatisannya pun tidak mampu berbuat apa-apa ketika mereka yang memiliki kekuasaan tinggi ingin melenyapkan kampung Blakan dan segala kegiatannya.

Jelas tak jelas, gamblang tak gamblang, menggantung tak menggantung, itulah sketsa Indonesia. Inilah yang dipotret Arswendo, melalui kegelisahan yang disalurkan para tokohnya dalam novel ini. (Nisa Rachmatika / PERADA, 26 Juli 2008 – Koran Jakarta)

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
NOVEL SASTRA

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"Books are not made for furniture, but there is nothing else that so beautifully furnishes a house." ~ Henry Ward Beecher

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 32075770

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit