Putri Cina Cetak E-mail
(6 votes)
Putri Cina
Judul : Putri Cina
Penulis: Sindhunata
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2007
Genre : Novel Sastra
Tebal: 304 Halaman 
ISBN: 978-979-22-3079-6

 

 

 

 

 

 

Putri Cina dalam polemik Identitas.

Siapakah saya? Mengapa saya ada? Darimana saya? Mengapa saya bernama Putri Cina? Pertanyaan-pertanyaan itu terus-menerus menghantui Putri Cina. Jikalau manusia adalah debu yang diterbangkan entah ke mana, mengapa Putri Cina disebut Cina? Dan mengapa dirinya berada di tanah Jawa?

Pertanyaan-pertanyaan soal esensi diri membuat Putri Cina terlempar ke dalam berbagai peristiwa. Ia berada di beragam keterikatan ruang dan waktu. Sindhunata memulai penceritaannya dari babad Tanah Jawa. “Sesungguhnya sejarah hanya berulang. Apa yang akan terjadi kelak, telah terjadi sekarang. Dan apa yang terjadi sekarang, telah terjadi dulu.” Ucapan ini mengawali penceritaan mengenai riwayat pertikaian di Tanah Jawa. Pertengkaran antara Kurawa dan Pandawa memunculkan Perang Baratayudha, sebuah perang saudara dalam perebutan kekuasaan.

Pertumpahan darah juga mengenai orang Cina di Tanah Jawa. Pada 1740, banyak orang Cina dibantai di Batavia oleh Belanda karena Belanda tidak tenang melihat gejolak ekonomi orang Cina meningkat. Di masa itu terjadilah pembantaian massal orang Cina. Semua rumah dan toko milik orang Cina dijarah dan dibakar habis. Pada 1946 orang-orang Cina yang bermukim di sebelah barat sungai Tangerang dibunuh. Tahun berikutnya politioneel actie dilancarkan Belanda. Penjarahan, perampokan, pemerkosaan, dan pembunuhan terhadap orang Cina terjadi.

Pada 1948 sekitar 1.500 orang Cina dibantai oleh sebuah laskar rakyat terkenal di Jawa Timur. Peristiwa pertumpahan darah orang Cina di Indonesia berujung pada Mei 1998. Banyak rumah dan toko orang Cina dijarah. Perempuan-perempuan Cina diperkosa. Akibat peristiwa itu banyak dari mereka yang tak waras lagi atau melarikan diri dari Indonesia.

Putri Cina pun mengada di Negara Pedang Kemulan. Ia menjadi Giok Tien, istri Senopati Gurdo Paksi. Lagi-lagi karena haus kekuasaan dan nafsu cinta, pertumpahan darah terjadi di negara itu. Giok Tien kembali mempertanyakan dirinya yang berada di tengah-tengah pertikaian. Apakah ia salah menjadi perempuan Cina yang bermukim di Jawa? Mengapa kehidupannya harus dirundung kekerasan?

Giok Tien semakin merasa tak berdaya menemukan hakikat hidupnya. Pelipur laranya hanyalah mencintai dan dicintai Gurdo Paksi. Mereka berdua mati dan menjadi sepasang kupu-kupu cantik. Giok Tien memang sudah mati, tetapi tidak bagi Putri Cina. Ia terus mengeksistensikan dirinya untuk mengetahui esensi keberadaannya. Proses memaknai segala identitas, hakikat hidup, asal-muasal, dan tujuan hidup begitu panjang dan melelahkan. Akhirnya hanya pengharapan yang tersisa, yang terwujud dalam permata-permata Suinli. Harapan untuk mendapatkan pengampunan yang melingkar dalam cinta dan belas kasihan. Dan harapan itu menjadi harapan anak-anak Cina untuk terus menyempurnakan keberadaan mereka.

Sindhunata mengajak kita untuk menelusuri eksistensialisme Putri Cina dengan meminjam kisah-kisah bersejarah. Ia meletakkan Putri Cina dalam keterbatasan waktu dan ruang. Ia memporakporandakan identitas perempuan Cina untuk menemukan esensi mereka yang sebenarnya. Sindhunata tak menutup mata melihat kondisi bangsa ini yang masih mempermasalahkan identitas orang-orang Cina. Di saat damai memang tak ada yang patut dipersalahkan. Namun perlu ada obyek yang dijadikan kambing hitam ketika suasana perdamaian tak lagi ada. Dan ketika kita mau menengok lagi ke dalam kubangan sejarah, maka orang-orang Cinalah yang menjadi korban guyuran kesalahan dan penghinaan.

Novel ini seolah menemani kita untuk kembali merefleksikan keberadaan orang-orang Cina yang sudah terlalu banyak ditimpa identitas negatif. Kisah Putri Cina menghampiri kita untuk mempertanyakan lagi keberadaan manusia, terlepas dari identitas saya adalah orang Jawa, Sumatra, Cina, India, dan sebagainya. Semua manusia adalah saudara. Kita mengada untuk mencari esensi diri masing-masing. Maka, tak perlu lagi ada persoalan mempertanyakan identitas yang satu dengan yang lain. Apalagi sampai berujung pada kekerasan dan pertumpahan darah. (rossa)

Jumlah komentar/resensi baru untuk buku ini (0)add comment

Silahkan memberi komentar/resensi baru dengan bahasa yang sopan dan bertanggung jawab.
Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

busy
 

Wisata-Buku.Com kini hadir di Smartphone Android (silahkan klik di sini)

Google

D i d u k u n g o l e h :

GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

KORAN JAKARTA - Harian Umum Nasional

Ketik kata kunci, misal: "harry potter"
Wisatawan Buku





Password hilang?
Belum terdaftar? Daftar
Beibiiyku Online Shop
Sponsor
FrozenbyQueen - Lezat Alami & Halal
Sponsor
Resensi Genre Terkait
NOVEL SASTRA

Resensi Terbaru
Resensi Populer
Komentar/ Resensi Baru
Metode Mengajar ala Tiongkok dan Jepang
Sudah seha...
Misteri MH-370
sedih, bin...
Hoegeng; Polisi dan Menteri Teladan
Sangat ins...
Mafia Migas VS Pertamina; Membongkar Skenario Asin...
Sangat bag...
7 Hari 1.500 Kilometer Mengelilingi Tibet
Traveling ...
Setelah 7 Malam di Alam Kubur; Apa yang Terjadi Pa...
:) ;D
Meneladani Jam-Jam Nabi Dalam Beribadah Dan Bekerj...
Ass. isi b...
Salam Lemper Cak Lontong
mantap!!
Misteri Hilangnya Batu Delima Biru
wah wah......
Steve Jobs iCon Apple
This guy w...
Promosi GRATIS
Inspirasi WB

"All books are divisible into two classes, the books of the hour, and the books of all time." ~ John Ruskin

 
K o m u n i t a s P e n d u k u n g
WBstat
Pengunjung: 32075488

Silahkan Daftar untuk memberi komentar/resensi baru dan melihat fitur-fitur lain, atau Login bagi yang sudah mendaftar.

... help us to spread the words!

 

Perhatian! Jika ada konten di situs ini yang melanggar hak cipta dan/ atau membuat kerugian materi, moril ataupun keduanya terhadap suatu pihak, mohon silahkan email ke: TimWB

 

Wisata-Buku.Com adalah bentuk dedikasi kepada:

Penggiat Buku dan Penerbit